Minggu, 27 Maret 2011

Cinta dalam diam

jika belum siap melangkah lebih jauh dgn seseorang..

cukup lah hanya mencintai nya dalam diam...

karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya...

kau ingin memuliakannya..

dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang..

kau tak mau merusak kesucian dan menajaga hatinya....

karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu....

menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusakkan izzahmu..

karena diammu bukti kesetiaanmu padanya...

karena mungkin saja orang yang kau cinta..

adalah juga pilihan Alloh s.w.t..

pilihan yang terbaik untuk mu....

ingatkah kau tentang kisah Fatimah dan Ali??

yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan....

tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah...

karena dalam diam mu tersimpan kekuatan...

kekuatan harapan.....

hingga mungkin saja Alloh akan membuat harapanmu itu menjadi nyata....

hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan yang nyata...

bukankah Alloh tak akan pernah memutuskan harapan hambanya yang berharap....???

dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu...

tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata...

biarkan ia tetap diam.....

jika dia memang bukan milik mu....

insyaAlloh.....

melalui masa dan waktu....

Alloh akan menghapuskan 'cinta dalam diam mu' itu...

dengan memberi rasa yang lebih indah..

dan insan yang yang lebih baik dari itu..

kenapa harus ragu-ragu??

kekuatan usah di tunggu....

tetapi perlu dicari....

biarkan 'cinta dalam diammu' itu....

menjadi memori tersendiri.....

di sudut hatimu menjadi rahsia antara kau dan Sang Pemilik Hatimu....

Minggu, 06 Februari 2011

Nasehat utk Ikhwan

Bagi seorang ikhwan, mikir-mikir dulu kalo mau menominasikan lawan jenis yang cuma punya kelebihan di penampilan fisik sebagai idaman. Apa pasalny?

Pertama, penampilan fisik itu sifatnya sementara. Bakal habis bin pudar dimakan usia atau bisa rusak karena musibah. Kalo kita matok rasa suka bin cinta cuma lantaran fisik, siap-siap aja kehilangan keindahan yang memikat kita itu. Nggak bener-bener cinta tuh kayaknya.

Kedua, lawan jenis yang diidamkan bukan cuma untuk mengisi ruang khayal semata, jadi bahan gosipan di antara teman, atau buat nemenin ke kondangan. Lebih dari itu, akhwat idaman berarti seseorang yang ditargetkan untuk menjadi istri, ibu dari anak-anak, mitra dakwah, sekaligus seorang sahabat dekat yang mengingatkan kala khilaf dan memompa semangat kita saat dirundung musibah. Semua peran itu dilahirkan dari pemahaman Islam dan kedewasaan dalam bersikap pada diri seorang akhwat, bukan dari penampilan fisik. Catet tuh!

Kondisi ini mengingatkan kita pada sebuah hadits : “Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalilah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatanmu, dirinya, dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang penuh kasih sayang.” (M. Fauzhil Adhim, ‘Kupinang Engkau dengan Hamdallah’).

Nah sobat, sepertinya kepribadian (syakhsiyah) seorang akhwat yang tercermin dalam caranya berpikir dan bersikap sesuai aturan Islam layak jadi ukuran standar bagi kaum Adam untuk memilih istri. Kalo emang bener mo ngebangun rumah tangga yang sakinah mawahdah, wa rohmah. Tapi bukan berarti kita ngelarang kamu pake pertimbangan fisik lho. Silahkan aja kalo mo pake standar ideal : cantik, kaya, shalehah, dan mau ama kita. Tapi kalo kriteria itu nggak ada, cukup asal mau ama kita, shalehah, kaya dan cantik. Yeee… itu mah sama aja atuh!

Ups! Maksute relakanlah predikat shalehah dari seorang wanita yang menerima cinta kita mengalahkan ego kita untuk dapetin yang cantik atau tajir. Yakin deh, selalu ada inner beauty dan kekayaan yang tak ternilai oleh materi pada diri seorang wanita shalehah (pengalaman nih ceritanya, huhuy!). Yes!

Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran. Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan. Tapi nikahilah wanita itu karena agamanya, sesungguhnya budak wanita yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya dan cantik yang tidak taat beragama).” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Jangan Egois Donk!
Allah SWT berfirman : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS. an-Nûr [24] : 26).
Dari ayat itu, Allah emang Maha Adil. Dia menjanjikan wanita yang baik untuk pria yang baik pula. Sebagaimana layaknya Aisyah RA menjadi istri Nabi SAW. Pria yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Itu berarti kalo pengen dapetin akhwat yang shalehah, kita juga kudu shaleh dong. Jangan cuma mikirin keinginan diri sendiri. Nggak adil tuh. Mengidamkan akhwat yang baik tapi kitanya sendiri jeblok. Karena kaum hawa juga berhak mendapatkan tipe-tipe primus alias pria mushala yang shaleh. Tul nggak sih?

Makanya kita jangan egois. Kita juga punya kewajiban yang sama seperti kaum Hawa untuk memoles kepribadian dan menghiasinya dengan akhlak Islam. Percaya deh, syakhsiyah Islam akan membantu kita untuk lebih bijak dalam mensikapi hidup. Kita jadi punya standar untuk berbuat atau menilai suatu perbuatan. Termasuk dalam memilih istri. Nggak asal nunjuk. Trus, di mana kita bisa dapetin syakhsiyah Islamiyah?
Yang pasti, syakhsiyah Islam nggak dijual bebas di pinggiran jalan, klub malem, pub, atau diskotek. Tapi kita bisa dengan mudah dapetinnya di forum-forum pengajian. Yup, di tempat pengajian kita diperkenalkan lebih dalam dengan Islam dan aturan hidupnya yang sempurna dan cocok buat kita. Ini yang bisa menjadi benih tumbuhnya syakhsiyah Islamiyah. Perlu perawatan yang rutin dengan getol mengkaji Islam jika kita ingin pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan.

Dengan dibubuhi pupuk keikhlasan semata-mata ingin dapetin ridha Allah (bukan cuma pengen dapet calon istri shalehah.. ehm..), syaksiyah Islam akan mengantarkan kita pada predikat kemuliaan. Di hadapan manusia, dan yang menciptakan manusia. Bukankah ini yang kita harapkan?

So, jangan tunggu hari esok. Mari kita sama-sama menjadi bagian dari generasi anak ngaji (Ngaji Generation). Membentuk syakhsiyah pada diri kita dan menanamkan akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Sekaligus memperkuat barisan perjuangan untuk memuliakan diri kita, Islam, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Moga-moga Allah masukin kita dalam daftar orang-orang yang berhak dapetin pasangan hidup yang shaleh/shalehah. Mau dong? Yuuuk
sumner :http://ayonikah.net

Alasan Ikhwan ( Pria ) Belum Menikah

Menikah adalah sunnah Rasulullah saw dan bagi yang belum menikah tentu ingin menyegerakannya. Namun kadang kala realita “agak” berbeda dengan keinginan (rencana). Ada berbagai alasan dan hal yang menjadi sebab mengapa seseorang belum juga menikah. Dan dengan mengetahui hal-hal yang menyebabkan seseorang belum menikah diharapkan lebih bisa menemukan solusi yang tepat dalam mengatasi hambatan pernikahan, atau meminimalkan hambatan itu.

Ikhwan dan akhwat punya alasan masing2 kenapa mereka belum juga menikah. Pada bagian pertama ini saya membahas dunia ikhwan dulu, baik itu melalui pengalaman2 para ikhwan ataupun melalui ilmu yang saya dapatkan. Tentunya ini lebih mudah membahasnya karena saya sendiri ikhwan, dan……belum menikah.
Beberapa alasan ikhwan belum menikah antara lain:
1. Masih punya tanggung jawab keluarga
Ada beberapa ikhwan yang menjadi tulang punggung keluarga mereka. Mereka punya orang tua yang bisa jadi sudah terlalu tua untuk bekerja menghidupi anak2nya. Maka sebagai anak tertua dia ikut bertanggung jawab terhadap adik2nya. Ini banyak kasusnya dan sering saya temui. Dengan masih adanya tanggung jawab terhadap keluarga, maka ikhwan tersebut merasa belum waktunya untuk memikirkan pernikahan.

2. Merasa belum mapan
Ini adalah alasan klasik dan banyak ditemui, yaitu masalah maisah. Merasa belum mampu memenuhi kebutuhan adalah hak yang wajar dihadapi dalam menuju pernikahan. Sebetulnya ini bukan hal yang menjadi kendala yang besar, karena saya mengamati banyak akhwat yang mau menikah dengan kondisi sederhana dan mau ikut berjuang membantu suaminya bila nanti sudah menikah. Walaupun ada juga akhwat yang memperhitungkan hal ini. Dan biasanya yang menjadi kendala dalam masalah maisah adalah tentang ijin mertua. Tentunya orang tua akhwat tidak begitu mudahnya melepaskan anak gadisnya pada sembarang laki2. Mereka harus memastikan bahwa laki2 yg akan menikahi anaknya itu mampu bertanggungjawab dan menghidupi.

3. Merasa punya kekurangan dan kurang pede.
Banyak orang yang minder dengan dirinya. Dia merasa punya kekurangan dan merasa tidak pantas menikahi si “A”. Perasaan takut ditolak, selalu menghantui sebelum melangkah. Bisa jadi ketakutan itu benar, tapi tentunya harus dipahami bahwa akhwat juga manusia. Kalaupun memang ikhwan merasa punya kekurangan, tentunya beberapa akhwat juga merasa demikian. Misal, ada ikhwan yang minder karena hanya lulusan SMP dan merasa tidak pantas melamar akhwat yang S1. Kalau memang demikian, kenapa tidak mencari saja akhwat yang juga lulusan SMP biar tidak merasa kurang?. Maka biasanya jodoh itu sekufu/sederajat/seimbang.

4. Selalu kurang sreg dengan akhwat yang ditawarkan
Ada juga tipe ikhwan perfect (dia merasa punya kelebihan, padahal belum tentu), yang ingin mencari akhwat yang perfect juga dan punya segudang kriteria tentang calon istrinya nanti. Sehingga banyak akhwat yang hadir dalam kehidupannya belum juga dia ajak taaruf hanya karena dia merasa akhwat itu belum memenuhi kriterianya. Sehingga lama2 usia semakin tua dan belum juga menikah. Sebetulnya, kita boleh2 saja mematok kriteria, tapi bukan hal yang bijak apabila terlalu kaku agar semua kriteria itu terpenuhi. Karena sulit menemukan manusia yang perfect, bahkan bisa jadi tidak ada. Kalaupun ada, belum tentu juga dia mau sama kita. Nah….

5. Trauma dengan kegagalan masa lalu
Ada juga ikhwan2 yg terlalu perasa, sehingga terlalu trauma dengan kegagalan proses nikah yang dulu pernah dijalaninya. Bisa jadi kegagalan itu tidak hanya sekali, jadi terlalu membekas dalam hatinya dan takut di kemudian hari akan gagal lagi, lalu takut mencoba lagi. Apalagi ditambah dengan sifat ikhwan yang introvert, wah susah deh diajak kompromi.

6. Kurang iman
Ini adalah penyebab internal yaitu penyakit hati. Kata Rasul, bisa laki2 sudah saatnya menikah tapi belum juga menikah bisa jadi ada 2 penyebabnya, yaitu banyak maksiat atau kurang jantan. Nah….

7. Masih konsen amanah2 lain
Banyak ikhwan yg punya segudang agenda dan amanah sehingga belum sempat memikirkan pernikahan. Padahal bisa jadi dengan pernikahan amanah2 yang diembannya akan lebih mudah dijalani.
Wallahu a’lam bishowwab.
sumber : http://ayonikah.net

Minggu, 19 Desember 2010

Keyakinan dan Kesabaran

Keyakinan, adalah kesederhanaan. Sebuah kesederhanaan yang lahir dari kuatnya jiwa dan karakter seseorang. Keyakinan juga yang membuat Rasulullah, tak pernah berhenti berdo’a untuk penduduk thaif meski lemparan batu, hinaan hingga penolakan terhadap beliau bersama risalahnya. Keyakinan juga yang menumbuhkan kecintaan yang membara seorang Khalid bin Walid dengan dinginnya malam ketika perang dibanding bermesraan bersama seorang gadis cantik. Keyakinan pula yang membuat Ali bin abi Thalib dengan berani menggantikan Rasulullah ketika beliau hendak dibunuh oleh kaum Quraisy. Keyakinan itu tumbuh.. kuat mengakar.. Lahir dari keluhuran budi, kokohnya karakter, dan bersumber dari dentuman cinta mengabadi yang tak pernah padam untuk Allah dan jihad di jalan-Nya.

Keyakinan adalah teman setianya gairah yang selalu bersumber dari cinta. Keyakinan adalah kekuatan yang takkan pernah habis untuk selalu memberi energi bagi jiwa untuk menunggu, “membangun”, menguatkan, hingga berbagai defenisi tindakan yang terkadang tak bisa diterima oleh akal. Keyakinan hadir seperti sumber cahaya, ia adalah sumbu lilin yang terus terbakar, ia adalah sumbu sinaran yang menjadi alat untuk memberikan ruang terangnya.

Jika keyakinan adalah alasan terbesar seseorang untuk bertahan. Maka pasangan jiwanya adalah kesabaran. Kesabaranlah yang membuat orang untuk terus bersama dengan keyakinannya. Jika keyakinan adalah sumbu untuk memberikan cahaya, maka kemampuan untuk menerangi selama mungkin adalah sebuah defenisi sederhana tentang kesabaran. Kesabaran selalu menghasilkan berjuta pesona bagi sejarah. Bagaimana Sayyid Qutb lebih memilih untuk bersabar bersama dengan siksaan penjara di zamannya, kesabarannya-lah yang membuat cerita jihad menggelora di dalam dada jutaan pejuang di seantero mayapada. Bagaimana Yusuf AS, yang lebih memilih penjara agar mampu terus mengenal-Nya. Bagaimana sumayyah meneladani semua wanita dengan semangat jiwanya untuk terus bersabar menahan siksaan kaum kafir hingga menjadi syuhada pertama dalam Islam. Mereka adalah karakter-karakter yang menyejarah.. selalu indah untuk dikenang.

Gabungan antara keyakinan dan kesabaran akan menghasilkan semangat yang takkan pernah padam. Keberanian akan menjadi temannya, kesolehan akan menjadi pakaian mereka, kebeningan hati akan selalu mengisi hidup mereka, dan hasilnya… Karya-karya besar bagi peradaban akan tercipta dari segala bentuk usaha mereka.

Yakinlah… bahwa Allah takkan pernah menyia-nyiakan segala usahamu.. Bersabarlah, hingga kelak… Ketika sabarmu telah habis masanya.. Perbahuilah terus ia dengan sebuah KEYAKINAN… Bahwa Allah takkan pernah membuatmu kecewa..!

ditulis oleh : Yusuf Al Bahi.

Kiat Mencari Jodoh

Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, supaya muncul suatu ketenangan, kesenangan, ketenteraman, kedamaian dana kebahagiaan. Hal ini tentu saja menyebabkan setiap laki-laki dan perempuan mendambakan pasangan hidup yang memang merupakan fitrah manusia, apalagi pernikahan itu merupakan ketetapan Ilahi dan dalam sunnah Rasul ditegaskan bahwa “Nikah adalah Sunnahnya”. Oleh karena itu Dinul Islam mensyariatkan dijalinnya pertemuan antara laki-laki dan perempuan dan selanjutnya mengarahkan pertemuan tersebut sehingga terlaksananya suatu pernikahan.

Namun dalam kenyataannya, untuk mencari pasangan yang sesuai tidak selamanya mudah. Hal ini berkaitan dengan permasalahan jodoh. Memang perjodohan itu sendiri suatu hal yang ghaib dan sulit diduga, kadang-kadang pada sebagian orang mudah sekali datangnya, dan bagi yang lain amat sulit dan susah. Bahkan ada kalanya sampai tua seseorang belum menikah juga.

Fenomena beberapa tahun akhir-akhir ini, kita melihat betapa banyaknya muslimah-muslimah yang menunggu kedatangan jodoh, sehingga tanpa terasa usia mereka semakin bertambah, sedangkan para musliminnya, bukannya tidak ada, mereka secara ma’isyah belum berani maju untuk melangkahkan kakinya menuju mahligai rumah tangga yang mawaddah wa rahmah. Kekhawatiran jelas tampak, di tengah-tengah perekonomian yang semakin terpuruk, sulit bagi mereka untuk memutuskan segera menikah.

Gejala ini merupakan salah satu dari problematika dakwah dewasa ini. Dampaknya kaum muslimah semakin membludak, usia mereka pelan namun pasti beranjak semakin naik.

Untuk mencari solusinya, dengan tetap berpegangan kepada syariat Islam yang memang diturunkan untuk kemaslahatan manusia, beberapa kiat mencari jodoh dapat dilakukan :

1. Yang paling utama dan lebih utama adalah memohonkannya pada Sang Khalik, karena Dialah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan (QS.4:1). Permohonan kepada Allah SWT dengan meminta jodoh yang diridhoiNya, merupakan kebutuhan penting manusia karena kesuksesan manusia mendapatkan jodoh berpengaruh besar dalam kehidupan dunia dan akhirat seseorang.

2. Melalui mediator, antara lain:

a. Orang tua. Seorang muslimah dapat meminta orang tuanya untuk mencarikannya jodoh dengan menyebut kriteria yang ia inginkan. Pada masa Nabi SAW, beliau dan para sahabat-sahabatnya segera menikahkan anak perempuan. Sebagaimana cerita Fatimah binti Qais, bahwa Nabi SAW bersabda padanya : Kawinlah dengan Usamah. Lalu aku kawin dengannya, maka Allah menjadikan kebaikan padanya dan keadaanku baik dan menyenangkan dengannya (HR. Muslim).

b. Guru ngaji (murabbiyah). Jika memang sudah mendesak untuk menikah, seorang muslimah tidak ada salahnya untuk minta tolong kepada guru ngajinya agar dicarikan jodoh yang sesuai dengannya. Dengan keyakinan bahwa jodoh bukanlah di tangan guru ngaji. Ini adalah salah satu upaya dalam mencari jodoh.

c. Sahabat dekat. Kepadanya seorang muslimah bisa mengutarakan keinginannya untuk dicarikan jodoh. Sebagai gambaran, kita melihat perjodohan antara Nabi SAW dengan Khadijah RA. Diawali dengan ketertarikan Khadijah RA kepada pribadi beliau yang pada saat itu berstatus karyawan pada perusahaan bisnis yang dipegang oleh Khadijah RA. Melalui Nafisah sebagai mediatornya akhirnya Nabi SAW menikahi Khadijah RA..

d. Biro Jodoh. Biro jodoh yang Islami dapat memenuhi keinginan seorang muslimah untuk menikah. Dikatakan Islami karena prosedur yang dilakukan sesuai dengan syariat Islam. Salah satu di antaranya adalah Club Ummi Bahagia.

3. Langsung, dalam arti calon sudah dikenal terlebih dahulu dan ia berakhlaq Islami menurut kebanyakan orang-orang yang dekat dengannya (temannya atau pihak keluarganya). Namun pacaran tetap dilarang oleh Islam. Jika masing-masing sudah cocok maka segera saja melamar dan menikah. Kadang kala yang tertarik lebih dahulu adalah muslimahnya, maka ia dapat menawarkan dirinya kepada laki-laki saleh yang ia senangi tersebut (dalam hal ini belum lazim di tengah-tengah masyarakat kita). Seorang sahabiat pernah datang kepada Nabi SAW dan menawarkan dirinya pada beliau. Maka seorang wanita mengomentarinya, “Betapa sedikit rasa malunya.” Ayahnya yang mendengar komentar putrinya itu menjawab, “Dia lebih baik dari pada kamu, dia menginginkan Nabi SAW dan menawarkan dirinya kepada beliau.”

Sebuah cerita bagus dikemukakan oleh Abdul Halim Abu Syuqqoh pengarang buku Tahrirul Mar’ah, bahwa ada seorang temannya yang didatangi oleh seorang wanita untuk mengajaknya menikah. Temannya itu merasa terkejut dan heran, maka wanita itu bertanya, “Apakah aku mengajak Anda untuk berbuat haram? Aku hanya mengajak Anda untuk kawin sesuai dengan sunnah Allah dan Rasul-Nya”. Maka terjadilah pernikahan setelah itu.

Semua upaya tersebut hendaknya dilakukan satu persatu dengan rasa sabar dan tawakal tidak kenal putus asa. Di samping itu seorang muslimah sambil menunggu sebaiknya ia mengaktualisasikan kemampuannya. Lakukan apa yang dapat dilakukan sehingga bermanfaat bagi masyarakat dan dakwah. Jika seorang muslimah kurang pergaulan, bagaimana ia dapat mengenal orang lain yang ingin menikahinya.

Barangkali perlu mengadakan evaluasi terhadap kriteria pasangan hidup yang ia inginkan. Bisa jadi standar ideal yang ia harapkan menyebabkan ia terlalu memilih-milih. Menikah dengan orang hanif (baik keagamaannya) merupakan salah satu alternatif yang perlu diperhatikan sebagai suatu tantangan dakwah baginya.

Akhirnya, semua usaha yang telah dilakukan diserahkan kembali kepada Allah SWT. Ia Maha Mengetahui jalan kehidupan kita dan kepadaNyalah kita berserah diri. Wallahu A’lam bishowab. (hudzaifah/hdn)

sumber : http://www.dakwatuna.com/2010/kiat-mencari-jodoh/