Minggu, 19 Juli 2009

Perkara yang mencelakakan Iblis dan membahagiakan Nabi Adam As.

Dua 'aktor utama' awal dari kehidupan ini yaitu Nabi Adam As. dan Iblis, yang semula tinggal di surga kemudian karena keduanya melanggar perintah Allah maka Allah memerintahkan mereka keluar dari surga untuk tinggal di muka bumi, memiliki nasib yang berbeda.

Disebutkan bahwa Nabi Adam As. meskipun dikeluarkan dari surga tapi bisa merasa bahagia sedangkan Iblis bernasib celaka.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad bin Dauri ra. berikut ini:

"Iblis celaka karena lima perkara, yaitu tidak mengakui dosa, tidak bersedih, tidak mencela dirinya sendiri, tidak mengazam berniat taubat, dan putus asa dari rahmat Allah. Sedang yang membuat Adam merasa bahagia juga lima perkara, yaitu: mengakui dosa, menyesali dosanya, menyalahkan dirinya sendiri, segera bertaubat, dan tidak pernah putus asa dari rahmat Allah."

Nabi Adam As. merasa bahagia lantaran mengakui dosanya, sebagaimana pengakuan beliau yang diabadikan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya (QS Al-A'raf: 23) sebagai berikut:

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Doa di atas dipanjatkan oleh Nabi Adam As. setelah dirinya tergelincir ke dalam perbuatan dosa, yaitu ketika memakan buah khuldi dari pohon yang terlarang. Peristiwa itu terjadi karena beliau tergoda oleh tipu muslihat Iblis, sehingga Nabi Adam As. dan istrinya, Hawa, dibuang dan diturunkan oleh Allah Swt. dari surga ke muka bumi. Kemudian Nabi Adam As. berdoa dengan doa tersebut di atas.

Seorang hamba jika dia mau mengakui dosa-dosa yang telah diperbuatnya dan lalu bertaubat maka Allah Swt. akan menerima taubatnya tersebut. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah ra. sebagai berikut:

"Sesungguhnya seorang hamba jika mau mengakui dosanya kemudian ia bertaubat, maka Allah berkenan menerima taubatnya."

Imam Baihaqi juga telah meriwayatkannya dari Abdullah bin Mas'ud ra. ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda yang artinya sebagai berikut:

"Barangsiapa berbuat kesalahan atau berbuat dosa, kemudian menyesali perbuatannya itu, maka penyesalannya itulah tebusannya."

sumber : www.jafarsoddik.com

Kekuatan Air Mata

Ia hadir hampir dalam setiap denyut nadi gerakan dan aktivitas mahasiswa. Penampilannya sederhana. Sikapnya santun. Mudah tersenyum. Suka menyapa, perhatian, dan ringan tangan. Saya baru mengenalnya ketika mengikuti sebuah acara seminar. Ia tampil sebagai pemateri. Air mukanya yang jernih dan tenang telah mampu menarik perhatian setiap pendengar. Untaian kata-katanya yang lembut, jelas dan tepat semakin menjadi daya tarik tersendiri bagi semua orang. Kata-katanya penuh ilmu dan hikmah. Bahkan candanya sekalipun tak kosong dari ilmu dan hikmah. Sehingga kesempatan bisa duduk dan ngobrol dengannya menjadi kesenangan tersendiri bagi saya.
Sangat gemar membaca, tak jarang setelah seharian kuliah ia sering ditemukan asyik menikmati buku-buku di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK). Full aktivitas, kegiatannya hampir tak terputus dan tanpa henti. Kendati demikian ia tidak pernah kehilangan kesempatan shalat berjamaah di mesjid, takbir pertama bersama imam. Walau sibuk, ia tak lupa menyempatkan diri bermesraan dengan mushâf saku yang selalu ia bawa. Ia selalu tampak kuat, bersemangat dan bisa menyelesaikan setiap pekerjaan dengan baik. Kebaikan yang ada pada dirinya mendorong saya untuk ingin lebih dekat mengenalnya. Saya ingin mengetahui apa yang menjadi rahasia kekuatan semangat, ketenangan dan kejernihan hati dan pikirannya.
Menurut salah seorang teman yang tinggal serumah dengannya, bahwa ia sering kedapatan menangis. Ya, ia sering ditemukan terisak menangis. Ketika ditanya kenapa ia menangis, ia berkata, "Akhi, kita hidup di dunia hanya sebentar, kematian datang kapan saja, setiap amal kita akan dihisab dan saya tidak tahu apakah kelak di akhirat saya akan tergolong menjadi ahli sorga ataukah neraka."
Suatu kali ketika shalat subuh berjamaah, saya berdiri di sampingnya. Dan saat itu imam membaca ayat, "Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak, "celakalah aku". Dan dia akan masuk kedalam api yang menyala-nyala(neraka). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira dikalangan kaumya (yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia yakin bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian), yang benar, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya." (Al-Insyiqâq: 10-15 ). Saya mendengar ia menangis sejadi-jadinya, saya seakan-akan mendengarkan air mendidih dari rongga dadanya.
Seusai shalat, saya melihat tangisan itu masih membekas di wajahnya. Hatinya begitu lembut, begitu mudah tersentuh dengan Al-Qur`ân.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu kita, para Al-Salafus Sâlih. Menurut suatu riwayat, jika mengerjakan shalat subuh, Umar Ra. sering membaca surat Al-Kahfi, Thaha dan surat-surat lain yang sama panjangnya dengan surat itu. Pada saat itulah Umar Ra. sering menangis sehingga tangisannya terdengar ke barisan belakang. Pada suatu ketika dalam shalat subuh , Umar Ra. membaca surat Yusuf, ketika sampai pada ayat, "Sesungguhnya hanya pada Allah saya mengadukan kesusahan dan kesedihanku. " ( Yusuf : 86 )
Umar Ra. menangis terisak-isak sehingga suaranya tidak lagi terdengar ke belakang. Terkadang dalam shalat tahajudnya Umar Ra. membaca ayat-ayat Al-Qur`ân sambil menangis sehingga ia terjatuh dan sakit. Inilah perasaan takut pada Allah seorang yang apabila disebut namanya saja, akan menggetarkan dan membuat takut hati raja-raja besar.
Rasulullah Saw. bersabda, "Akar dari kebijaksanaan adalah takut kepada Allah."
Suatu hari Rasulullah Saw. melewati seorang sahabat yang sedang membaca Al-Qur`ân, ketika sahabat tadi sampai pada ayat, "Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah seperti kulit yang merah." (Ar-Rahman: 37), maka bulu pembaca tadi berdiri tegak dan dia menangis terisak-isak dan berkata, "Aduh, apakah yang akan terjadi pada diriku apabila langit terbelah pada hari kiamat? Sungguh malang nasibku." Nabi berkata padanya, "Tangisanmu membuat para malaikat ikut menangis bersamamu."
Abdullah bin Rawahah salah seorang sahabat Rasulullah Saw., pada suatu hari menangis dengan sedihnya, melihat keadaan itu istrinya pun turut menangis bersamanya. Dia bertanya pada istrinya, "Kenapa engkau menangis?" istrinya menjawab, "Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang menyebabkan saya menangis." Abdullah berkata, "Ketika saya ingat bahwa saya harus menyeberangi neraka melalui shirat, saya tidak tahu apakah saya akan selamat atau tidak."
Rasulullah Saw. bersabda : "Wajah yang dibasahi air mata karena takut pada Allah walaupun sedikit akan diselamatkan dari api neraka." Beliau juga bersabda, "Jika seseorang menangis karena takut pada Allah maka dia tidak akan masuk neraka, seperti tidak mungkinnya air susu masuk kembali ke putingnya."
Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw., "Adakah diantara pengikut-pengikutmu yang akan masuk surga tanpa hisab?", "Ia" jawab Nabi. "Dia adalah orang yang banyak menangis karena menyesali dosa-dosa yang telah ia lakukan."
Dalam kesempatan lain Rasulullah Saw. bersabda, "Ada dua jenis tetesan yang sangat disukai oleh Allah, tetesan air mata karena takut pada-Nya dan tetesan darah karena perjuangan di jalan-Nya."
Sungguh masih banyak lagi riwayat yang menjelaskan penting dan bermanfaatnya menangis karena takut pada Allah Swt. sambil menyesali dosa-dosa dan mengingat kebesaran Allah. Dan kisah-kisah diatas adalah suatu teladan bagi kita.
Ternyata air mata tidak selamanya menjadi simbol kelemahan, di dalamnya justru terdapat kekuatan, ada daya rubah yang luar biasa. Dengannya banyak pekerjaan besar bisa diselesaikan secara optimal. Terutama saat-saat bersama Al-Qur`ân, disaat sendiri mengingat dosa dan kesalahan.
Marilah kita melihat diri kita yang bergelimang dengan noda dan dosa, diri yang tidak pernah merasa takut dengan siksa Allah. Mata yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah menangis karena takut pada Allah. Dan mari kita hitung, sampai detik ini, sudah berapa kali air mata kita menetes karena takut pada Allah? Karena mengingat dosa-dosa dan kesalahan kita dan karena mengingat siksa-Nya. Wallâhul musta`ân wa a`lam
Cairo,

http://www.eramuslim.com/oase-iman/kekuatan-air-mata.htm

Wahai Akhi Takutlah pada Allah!!

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya berada di internet yang letaknya tidak jauh dari rumah saya, di Saqar Quraisy, seorang pemuda duduk disamping saya, tengah sibuk mengotak-atik komputer.

Ketika saya tengah membuka email dan membaca berita, pandangan saya tanpa sengaja tertuju pada layar monitor pemuda tersebut, dan alangkah sangat terkejutnya saya dengan apa yang saya lihat. Si pemuda menonton adegan yang menurut saya sangat tidak layak untuk ditonton.

Saya segera mengingatkannya, “Akhi, tinggalkanlah itu!”

Ia menoleh pada saya dan berkata, “Emangnya kenapa?”

“Apa yang akhi lihat tersebut akan merusak pikiran dan hati akhi”, jelas saya padanya.

“Akhi kuliah di Azhar?”, lanjut saya bertanya padanya karena saya melihat buku yang ia bawa.

“Tidak”, balasnya.

Saya kembali melanjutkan aktifitas saya. Dan si pemuda sudah menutup apa yang ia tonton. Beberapa waktu kemudian ia terlihat kembali membuka tontonan yang tidak layak tersebut. Saya kembali mengingatkannya, tapi ia tidak mengacuhkan. Sebelum beranjak pergi saya berkata padanya, “Wahai Akhi, takutlah pada Allah!”.

Hal lain yang saya lihat dari pemuda tadi adalah, jelas sekali perbedaan antara orang yang hatinya suci dan bersinar dengan cahaya iman dan amal soleh dengan hati orang yang kotor oleh dosa dan maksiat.

Orang yang hatinya suci dan bersinar dengan cahaya iman, terpancar kerjenihan pada wajahnya. Air mukanya terlihat tenang, sejuk dipandang dan bersinar. Sedangkan orang yang dalam hatinya dipenuhi oleh kotoran dosa dan maksiat, terlukis pada pancaran mukanya yang keruh, gelap, dan kurang nyaman untuk dipandang.

Apa yang saya lihat, mungkin hanya satu dari sekian banyak pemuda yang sering mengakses situs-situs jorok tersebut. Sangat memprihatinkan, betapa tidak, karena perbuatan itu akan merusak pikiran, hati dan amal.
Bagaimana itu bisa terjadi ...?

Orang yang suka melihat gambar dan tontonan yang jorok, akan tersimpan memori itu dalam otaknya, dan lama kelamaan ia akan menjadi pikiran yang sering mengganggu. Kemudian timbullah bisikan dari setan dan dorongan dari hawa nafsu untuk mempraktekkannya. Dan kalau orang tersebut tidak tahan ia akan bisa terjerumus pada perbuatan zina.

Semua itu berawal dari pandangan yang tidak dikontrol.

Dan akibat lainnya adalah, pikiran yang sulit untuk fokus, hati yang selalu resah gelisah tak menentu, karena dosa dan maksiat menggelisahkan hati. Dan pada akhirnya orang tersebut akan diperbudak oleh hawa nafsu dan setan. Sehingga akan sulit untuk belajar dengan tenang, ibadah dengan khusyuk dan tidak akan pernah bisa merasakan nikmat dan lezatnya ibadah.
Hati ibarat sebuah wadah.

Apa yang akan kita lakukan bila wadah yang biasa digunakan untuk meletakkan makanan berisi kotoran?
Langkah yang tepat adalah membersihkan wadah itu terlebih dahulu, baru kemudian memasukan makanan. Kalau tidak dibersihkan, makanan yang lezat akan bercampur dengan kotoran tersebut dan jadilah makanannya tidak enak.
Mungkin diantara kita telah sering mendirikan shalat, membaca al-Qur`an, berzikir dan amal ibadah lainya, tapi sering kali kita tidak merasakan rasa nikmat dan lezat dalam hati, dengan kata lain kita tidak merasakan kemanisan dalam beribadah. Kenapa hal itu terjadi?

Barangkali kondisi hati kita masih menyimpan kotoran dosa dan maksiat yang belum tuntas atau belum pernah kita bersihkan. Baik kotoran dosa dan maksiat itu berasal dari mata, pendengaran, kata-kata, pikiran-pikiran kotor atau niat-niat yang jelek. Itu yang selama ini menjadi penghalang kita untuk merasakan manisnya ibadah dan lezatnya ketaatan. Semakin banyak kotoran dosa dan maksiat mengisi hati maka akan semakin sulit bagi kita untuk merasakan lezatnya ibadah.

Saudaraku,
Dimanapun kita berada dan kapanpun, Allah selalu melihat kita, mengetahui apa yang kita lakukan dan tidak ada satu tempatpun di dunia ini yang lepas dari pandangan Allah Swt., bahkan apa yang terbersit di hati kita Allah Swt. mengetahuinya.
Allah Swt. berfirman dalam beberapa ayat, “Yang melihat engkau ketika engkau berdiri (untuk shalat). Dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud” [ Asy-Syu`ara` : 218-219 ]

“Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan.”

[ Al Hadid : 4 ]

“Bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tersembunyi di bumi dan di langit”

[ Ali Imran : 5 ]

“Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi”

[ Al Fajr : 14 ]

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi dalam dada”

[ Ghafir : 19 ]

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdur Rahman Mu`adz bin Jabal r.a, Rasulullah bersabda :

”Bertaqwalah kamu pada Allah dimanapun kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik ( akan menghapus keburukan ) dan bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik”

[Hr. Tirmidzi ]

Dan yang diriwayatkan dari Anas r.a, Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh kalian mengerjakan suatu amalan yang ianya dalam pandangan kalian lebih halus nilainya dari sehelai rambut, akan tetapi kami pada masa Rasulullah Saw. menganggapnya sebagai suatu perbuatan yang membinasakan” [Hr. Bukhari]

Semoga kita tidak tergolong pada orang-orang yang tertipu oleh bujuk rayu setan dan hawa nafsu. Wallahul musta`an

http://www.eramuslim.com/oase-iman/wahai-akhi-takutlah-pada-allah.htm

Sebelum Hati Menjadi Keras

Ketika hujan turun, di sebagian tempat, air hujan menggenang di atas tanah. Di bagian tempat lain, air hujan menyusup masuk ke dalam tanah.

Air yang tergenang di atas tanah, setelah beberapa lama akhirnya mengering oleh panasnya matahari. Adapun tanah yang menyerap air, menjadi semakin subur, lembut, dan tumbuh darinya berbagai jenis tumbuhan dan tanaman.
Tanah yang keras seperti batu, tidak akan bisa menyerap air, karena tidak memiliki celah-celah yang bisa dimasuki air. Sedangkan tanah gembur, dapat dengan mudah menyerap air.
Demikian perumpamaannya. Hati yang lunak dan lembut, akan mudah menerima petunjuk dan kebenaran. Ia akan terbuka dan berlapang menerima nasihat dan kebaikan.

Di dalam hati yang lunak dan lembut, bibit kebaikan memang telah ada dan selalu dirawat pemiliknya, sehingga petunjuk dan kebenaran mendapat celah untuk masuk ke dalam hati.

Adapun hati yang keras bagai batu, sangat sulit menerima petunjuk dan kebenaran. Hati jenis ini telah dikuasai oleh kesombongan dan keangkuhan. Ia menolak kebenaran, hingga berapa pun petunjuk yang datang kepadanya, tidak akan bermanfaat. Pintu hatinya telah tertutup oleh kesombongannya sendiri.

''Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.'' (QS Albaqarah [2]: 6-7).

Dalam kehidupan yang kita jalani, sebagian orang ketika datang padanya kebenaran, ia dengan angkuh menolak dan berkata, ''Saya adalah paling benar, pendapat Anda salah.'' Maka, berbicara pada orang seperti ini, tidak akan ada gunanya, karena ia sendiri yang telah menutup pintu hatinya untuk menerima tamu kebenaran.

Amatlah disayangkan sikap orang-orang yang selalu menolak kebenaran dan petunjuk. Karena penolakan mereka, sesungguhnya akan mengantarkan pada kebinasaan dan kehancuran di dunia dan akhirat.

Sebelum hati menjadi keras seperti batu, dari awal kita harus selalu merawatnya, menjaga kesuburannya dengan membiasakan mendengarkan Alquran dan men-tadabburi-nya. Lainnya, membaca sirah Rasulullah SAW, para sahabat dan orang-orang saleh, mengingat mati dan bergaul dengan orang-orang saleh yang setiap kata-kata mereka mengandung manfaat dan kebaikan.

Karena, bila hati telah keras, bagaimanakah cahaya petunjuk akan dapat diterima? Bagaimanakah guyuran hujan kebenaran akan dapat diserap dan dipahami? Dan sebelum itu terjadi, sebelum Allah SWT menutup mata hati, mari kita rawat bibit kebaikan dalam diri.

http://www.republika.co.id


Ketika Mahasiswa Islam Jauh dari Tuntunan Agama

Satu hal paling urgen yang seringkali dilalaikan oleh banyak manusia adalah tentang hakikat dirinya sebagai seorang hamba Allah Swt.. Manusia acap kali mengabaikan atau bahkan sengaja melupakannya. Dan dari akar masalah inilah timbul berbagai tindakan dosa, maksiat, kejahatan, dan kerusakan dalam kehidupan. Manusia seperti ini hidup dalam kebebasan berbuat dan bereskpresi serta melakukan apapun yang dikehendaki hatinya. Hidup tanpa ada aturan yang jelas. Orang-orang yang seperti demikian telah hilang fungsi akal dan hatinya. Akalnya tidak lagi bisa membedakan antara yang baik dan buruk. Dan hatinya tidak lagi bisa membedakan antara yang benar dan salah.

Allah Swt. telah mengatur kehidupan manusia dalam al-Qur`an dan sunnah Rasulullah Saw.. Manusia yang menyadari dirinya sebagai seorang hamba akan selalu mengikuti petunjuk yang diturunkan Allah Swt. dan diajarkan Rasul Saw.. Hidupnya akan penuh dengan kebaikan dan nilai-nilai manfaat. Manusia seperti demikian adalah orang-orang yang Allah gambarkan sebagai ûlul albâb, orang-orang yang berakal. Sehingga nampak jelaslah adanya perbedaan yang mencolok antara orang-orang yang menjalankan fungsi akal dan hatinya. Dan adanya perbedaan antara orang-orang yang hatinya hidup dengan orang-orang yang hatinya sakit atau telah mati.

Kita sebagai pelajar dan mahasiswa Islam tentu harus lebih cerdas dalam hal ini. Kita telah belajar Al-Qur`an, Hadits, Aqidah, Fiqh dan beraneka ragam ilmu agama lainnya. Dari berbagai pembelajaran tersebut banyak hal yang telah kita pahami dan ketahui.

Kita sudah mengenal Allah Swt., sunnah Rasul Saw., aturan-aturan syar`i, dan batas-batas dalam berbuat serta berekspresi. Ada koridor yang harus dijaga dan tidak boleh dilanggar. Kita bukan seperti orang-orang kafir yang boleh berbuat seenak hati, bukan seperti orang-orang awam yang masih dangkal dan jauh pemahaman agamanya. Tapi kita adalah muslim dan penuntut ilmu syar`i.

Sebagai seorang pelajar kita tidak hanya dituntut pintar, menguasai berbagai macam pengetahuan, tapi kita juga dituntut untuk soleh secara pribadi, akhlak, sikap, dan dalam hubungan dengan orang lain. Kesalehan yang mencakup seluruh aspek. Ini yang tidak dipahami dan disadari oleh sebagian pelajar islam. Sehingga kita banyak melihat pelajar islam sering kali melakukan tindakan-tindakan yang tidak layak bagi seseorang yang bergelar pelajar islam.

Contoh yang sering kita lihat adalah pacaran. Pacaran sudah menjadi budaya yang sulit rasanya untuk dihilangkan. Jalan bareng, nelpon tanpa batas waktu dan kata, chating yang berkepanjangan dan sebagainya telah begitu mengakar dalam diri sebagian pelajar islam.

Interaksi yang terlalu dekat dengan lawan jenis ketika dalam kegiatan-kegiatan, acara rihlah, bahkan dalam forum-forum keilmuwan dan dakwah juga sering terjadi. Kerusakan moral telah meluas dan semakin parah.

Sebagian muda-mudi ada yang sentimen atau berpandangan negatif pada mahasiswa dan mahasiswi yang menikah ketika masih kuliah. Akan tetapi, apakah mereka tidak risih melihat mahasiswa/i yang pacaran, yang belakangan ini sudah menjadi pemandangan biasa. Seperti , jalan berduaan, makan di restoran berduaan, sehingga kita sangat sulit membedakan mana yang telah menikah dan mana yang belum, karena prilaku mereka seperti orang yang sudah menikah.

Dari segi pakaian, masih banyak kita temukan kaum muslimah yang pakaiannya ketat, transparan atau mengundang perhatian, sedangkan ia belajar di institut pendidikan Islam. Atau mahasiswa yang penampilannya tidak mengesankan dirinya seorang pelajar islam.

Hal lainnya adalah, tidak terjaganya mata, mata yang sering jelalatan dan melihat sesuatu yang akan mengotori hati, pikiran, dan membangkitkan hasrat nafsu birahi. Atau menghabiskan waktu dan hari-hari dengan hiburan-hiburan cengeng, yang membuat seseorang lemah mental dan iman. Hiburan yang tidak membangun jiwa, tidak menambah ilmu dan manfaat, hiburan yang tidak mendekatkan seseorang pada kebaikan dan pada Allah Swt.. Dan banyak hal lainnya yang kalau kita sorot lebih jauh dan mendalam, yang terjadi di lingkungan dan dalam kehidupan seorang manusia muslim dan mahasiswa/i islam.


Setiap orang memang boleh berekspresi, tapi harus diingat ada batasan yang mesti ia perhatikan dan jaga. Bukannya bisa berbuat seenak hati. Kita harus menyadari bahwa diri kita adalah seorang hamba Allah Swt.. Setiap saat Allah Swt. senantiasa melihat, mendengar dan mengetahui kata-kata, perbuatan dan isi hati kita. Kalau hal ini betul-betul kita pahami dengan baik, tentu berbagai kerusakan akhlak, moral, amal, ilmu dan seterusnya tidak akan terjadi dalam kehidupan kita.

Ketika band dijadikan sebagai hiburan oleh para penuntut ilmu agama, timbul pertanyaan, kenapa harus musik band? Apa tidak ada lagi hiburan lain yang lebih manfaat dan lebih pantas diadakan oleh kita selaku penuntut ilmu agama?

Kenapa kita seolah-olah meninggalkan al-Qur`an sebagai penghibur hati? Walaupun ada beberapa alasan mereka yang membenarkan musik band, diantaranya adalah ungkapan, "Kan yang penting lirik lagunya islami," akan tetapi dari alasan ini muncul sebuah pertanyaan, apakah mereka yang mendengarkannya merenungi atau menikmati kata-kata yang ada dalam lagu tersebut, atau mereka terhibur adalah semata-mata karena alat musik yang dimainkan? Menurut penulis, masih banyak alternatif lain yang lebih pantas bagi kita sebagai penuntut ilmu syar`i.

Tulisan ini tidaklah bermaksud untuk menyudutkan beberapa pihak, tapi penulis ingin menghimbau pada kita semua untuk sama-sama mengenali hakekat diri kita sebagai seorang manusia, seorang hamba Allah Swt. dan seorang pelajar islam. Sehingga dengan adanya kesadaran yang penuh dalam diri kita akan hal ini, bisa menghantarkan kita semua untuk menjadi pribadi muslim yang soleh dan solehah sebagaimana yang diinginkan Allah Swt.. Kita hidup di dunia hanya sebentar, dan waktu sebentar itu tidaklah tepat kiranya kita gunakan untuk hal-hal yang tidak berguna apalagi untuk hal-hal yang akan mencelakakan kita di akhirat kelak.

Memang setiap kita punya persepsi masing-masing dan setiap individu berhak menentukan sikap dan pilihan terhadap dirinya. Namun alangkah bijaknya kita yang lemah dan tidak tahu ini berkaca pada petunjuk Allah Swt. dan Rasul Saw. dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Sehingga nampak jelaslah bagi kita kebenaran dan kemungkaran itu, jelaslah bagi kita jalan mana yang harus kita tempuh dan jalan mana yang harus kita tinggalkan.

Terakhir, semoga pembaca bijak dalam memahami tulisan ini , mengambil sisi positif dan manfaatnya. Dan bila terdapat kesalahan dalam penempatan atau penggunaan kata, terlebih dahulu penulis menyampaikan permintaan ma`af dan mengharapkan perbaikan dari pembaca sehingga diantara kita terbina saling mengingatkan pada kebaikan.

sumber : www.marifassalman.multiply.com