Pergaulan dalam istilah bahasa Indonesia berarti
kehidupan bersama, yakni kehidupan antar sesama manusia. Salah satu
bentuk pergaulan antar sesama manusia adalah pergaulan antara laki-laki
dan perempuan. Terkadang bentuk pergaulan tersebut bisa berupa
persahabatan yang terjalin antara mereka dengan saling mengutarakan isi
hati (tempat curhat).
Sebuah persahabatan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan bisa
dilatarbelakangi oleh kesamaan ide, gagasan, gaya hidup, minat,
kebutuhan-kebutuhan, cara berpikir dan harapan-harapan. Dari situ
muncullah simpati dan selanjutnya akan ada keterbukaan, jika sudah
saling terbuka, maka dilanjutkan dengan sikap curhat. Dalam nuansa
religiusnya biasanya dipakai kata ‘ukhuwah’. Namun ukhuwah ini didasari
dengan keimanan, keikhlasan dan muroqobatullah.
Kedudukan sahabat begitu khusus dalam hati seseorang,
sehingga persahabatan yang terjadi antara lawan jenis non mahrom perlu
dipertanyakan, apakah mereka memang murni sebagai seorang sahabat ?
Sebab tidak tertutup kemungkinan di hati mereka atau salah seorang dari
mereka ada perasaaan memiliki dan penuh harap. Curhat yang terjalin
diantara merekapun sebenarnya bukanlah untuk mencarikan sebuah solusi
namun tidak jarang hanya untuk pengaduan dan minta perhatian.
Secara fitrah, antara laki-laki dan perempuan memiliki
saling ketertarikan seperti positif dan negatif, sehingga tidak ada
hubungan persahabata yang bebar-benar tulus diantara mereka. Hal ini
perlu menjadi perhatian baik bagi ikhwan maupun akhwat, sebab fenomena
ini yang berkembang akhir-akhir ini telah terjadi ‘kelonggaran’ dalam
pergaulan, apakah memang zamannya saudah berubah atau karena ruang
lingkup dakwah sudah meluas, pergaulan sudah heterogen, bahkan dengan
masyarakat secara umum. Sehingga perlu evaluasi kembali terhadap lawan
njenis, kendati apa yang dilakuakn semata-mata demi berkembangnya
dakwah.
Islam sebagai Dinullah telah mengatur kehidupan antar sesama manusia dengan rincinya. Islam sangat menjaga agar hubungan
kerja sama antara laki-laki dan perempuan (ikhwan dan akhwat) hendaknya
bersifat umum dalam urusan-urusan muamalat bukan hubungan yang bersifat
khusus seperti saling mengunjungi antara mereka yang bukan mahrom atau
jalan-jalan bersama. Kerjasama antara keduanya bertujuan agar mereka
melaksanakan apa yang menjadi kewajiban-kewajibannya.
Interaksi diantara mereka mestinya tidak mengarah pada
hubungan yang bersifat nafsu syahwat, artinya interaksi mereka tetap
dalam koridor kerjasama semata (amal jama’i) dalam menggapai berbagai
kemaslahatan dakwah dan dalam melakukan berbagai macam aktivitas yang
bermanfaat, tanpa diwarnai oleh ‘kepentingan individu lainnya’.
Pergaulan ikhwan dan akhwat hendaknya menjadikan aspek ruhani sebagai landasan hukum dan syariat sebagai tolok ukur yang didalamnya terdapat hukum yang mampu menciptakan nilai-nilai akhlak yang luhur.
Dalam menjaga hubungan dengan lawan jenis, rambu yang telah
ditentukan Islam hendaknya dijadikan pedoman sekalipun hubungan tersebut
dalam kerangka dakwah. Larangan dalam persoalan ini demikian tegas.
Atas dasar itu, Islam menetapkan sifat menjaga kehormatan sebagai suatu
kewajiban. Diantara ketentuan hukum yang berkenaan dengan hubungan
terhadap lawan jenis antara lain adalah :
Pertama, Perintah untuk menjaga pandangan. Allah Swt berfirman : Katakanlah
kepada laki-laki yang mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan
memelihara kemaluannya. Sikap demikian adalah lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Tahu atas apa yang mereka perbuat. Katakanlah
kepada wanita mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan
memelihara kemaluannya. (QS An-Nur : 30-31).
Apapun agen da dakwah yang hendak kita lukan, pandangan terhadap
lawan jenis tetap harus dijaga, bukan berarti kita tidak melihat lawan
jenis sama sekali, namun menjaga mata agar tidak saling menatap, sebab
tatapan mata yang berlama-lama dapat mempengaruhi perasaan sehingga
syaitan sangat leluasa menggoda. Rukhshoh hanya diberikan
kepada mereka yang terlibat dalam proses belajar mengajar, transaksi
jual beli, memberikan kesaksian, berobat dan saat khitbah.
Kedua, Islam telah memerintahkan kepada kaum wanita untuk mengenakan pakaian secara sempurna. Yakni
pakaian yang menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
(QS Al-Ahzab : 59). Adapun bentuk dan model pakaian tidaklah termasuk
urusan ibadah murni tatpi termasuk aspek muamalah yang illat dan
ketentuan hukumnya berporos pada maksud dan tujuan syariat (sebagaimana
yang diungkapkan Prof. Abdul Halim dalam Tahrirul Mar’ahnya).
Oleh sebab itu, bagaimanapun bentuk dan model pakaian asalakan dapat
menutup aurat dengan memenuhi kriteria dan persyaratan yang ditetapkan
syariat, sesuai dengan kondisi iklim dan pada sisi lain memudahkan
wanita bergerak, maka dapat diterima oleh syar’i. Kriteria dan
persyaratan itu antara lain menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan
kedua telapan dan punggung tangan, longgar, tidak ketat dan tidak
transparan, serta serasi dan tidak mencolok.
Ketiga, Islam melarang pria dan wanita untuk berkhalwat (berdua-duaan), kecuali wanita itu disertai mahramnya. Rasulullah Saw bersabda : Tidak dibolehkan seorang pria dan wanita berkhalwat, kecuali wanita itu disertai mahramnya.
Keempat, Islam sangat menjaga agar dalam kehidupan khusus hendaknya jamaah (komunitas) kaum wanita terpisah dari jamaah kaum pria; begitu
juga didalam masjid, sekolah, dan lain sebagainya. Paling tidak jangan
sampai terjadi pembauran (ikhtilat), sekalipun dalam urusan dakwah.
Pengaturan dan penjagaan shaf ikhwan dan akhwat baik dalam berdemo atau
kegiatan lainnya perlu di tata kembali. Ikhtilat ini sangat banyak
terjadi dalam kehidupan bermasyarakat seperti di dalam kendaraan umum,
di pasar, dllnya. Menurut Dr. Abdul Karim Zaidan hal seperti ini
dikategorikan sebagai bentuk dhorurat, selama kita memang belum mampu
mengubahnya, namun apabila kita bisa mengaturnya, maka hukum dhorurat
tidak berlaku lagi.
Demikian antara lain sebagian kecil dari sekian banyak rambu-rambu
yang telah diatur Islam dalam pergaulan. Dakwah sudah menyebar,
pergaulan sudah semakin luas, nemun kita sebagai kader dakwah hendaknya
tetap menjaga asholah dakwah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.
(Oleh : Ustdz. Dra. Herlini Amran, MA., Tarbiyah Akhwat. Majalah Al-Izzah Edisi 12 Th.1/Juli 2004)
Selasa, 18 Juni 2013
Minggu, 16 Juni 2013
Harmoni Alam (Bagian 2-Habis)
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.05 WIB. Aku pun bersiap untuk berangkat ke masjid, ketika azan mulai berkumandang. Perlahan aku mulai melangkahkan kaki, setapak demi setapak. Ku lihat langit maghrib itu nampak cerah. Awan-awan tipis tampak menyebar dan membentuk formasi indah di atas cakrawala, jejak sinar mentari yang mulai tenggelam masih melekat di perut-perut awan menyisakan warna jingga yang berpadu dengan wana biru cakrawala yang mulai di selubungi oleh gelapnya malam. Sepertinya cuaca sangat bersahabat, tidak ada tanda-tanda awan mendung yang bersemayam di langit. Aku pun terus berharap, semoga cuaca nanti malam cerah dan kami bisa berkumpul di agenda rutin pengajian mingguan.
Sepulang dari masjid aku melakukan rutinitas seperti biasa hingga jam menunjukkan pukul 19. 45 WIB. Aku segera menyiapkan segala sesuatu yang akan ku bawa ke pengajian malam itu. Mulai dari Qur'an, buku catatan, dan tak ketinggalan kado yang sudah di bungkus sedemikian rupa untuk acara inti. Oh ya aku ingin sedikit menjelaskan, mengapa di adakan acara tukar kado ? apakah ada yang berulang tahun ? Tenyata tidak. Hal ini dilakukan untuk mengaplikasikan anjuran dari Rasulullah shallallahu 'alaihi was salam untuk saling memberi hadiah kepada sesama muslim, sebagaimana yang tersebut dalam hadis riwayat Bukhari. Rasulullah shallallahu 'alaihi was salam bersabda; "Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai."
Berhubung tempat kami mengadakan pengajian adalah di rumah salah seorang teman yang berlokasi di daerah yang cukup jauh dan sedikit terpencil, maka aku mulai menghubungi beberapa teman untuk berbarengan pergi ke lokasi yang di tuju. Suasana alam malam itu amat bersahabat. Cuaca langit begitu cerah, bulan purnama tampak utuh terlukis indah di atas langit, awan-awan hitam hanya sedikit yang menampakkan diri, angin pun berhembus pelan, yang menandakan tidak akan turun hujan. Bintang-bintang hanya sedikit yang nampak, mungkin karena cahaya mereka "termakan" oleh terang sinar bulan malam itu. Aku pun segera menarik laju kuda besi menuju persimpangan Rca, tempat aku dan teman-teman berjanji bertemu, sebelum berangkat ke tempat tujuan.
Sekitar pukul 20.10 WIB, aku telah tiba disana. Dari kejauhan aku melihat, akh (bahasa arab-artinya saudara, -pen) farhur telah tiba lebih dahulu. Akh fahrur adalah salah satu rekan pengajianku, beliau berprofesi sebagai guru di salah satu Sekolah Dasar Islam terkemuka di kotaku. Perawakannya sedang, dengan wajah dihiasi cambang dan janggut yang tumbuh rapi di sekitar dagu dan tepi wajahnya, pria kelahiran tanah Jawa ini telah menunggu lebih kurang lima menit sebelum aku tiba. Akupun menepikan motor di depan salah satu toko baju yang ada di simpang itu. Kami pun mengobrol sejenak, sambil menunggu temanku yang satu lagi akan tiba, akh ican. Beliau juga seorang guru muda dan mengajar di Sekolah dasar yang sama dengan akh fahrur. Sepuluh menit berselang beliau sudah tiba. Kami pun segera berangkat bersama menuju rumah akh tama, tempat kami mengadakan pengajian malam itu.
Rumah yang terletak cukup jauh, melewati jalan berkelok dan naik turun tebing. Mungkin karena berada di lokasi yang secara geografis terdiri dari daerah perbukitan. Sekitar pukul 20.40 WIB kami telah tiba di rumah yang di tuju. Disana tampak beberapa teman telah lebih dahulu tiba, kami pun memarkirkan motor di halaman depan rumahnya. Rumah bedeng yang berada di tepi jurang, dimana di bawah jurang tersebut terdapat aliran sungai kelingi. Jika di lihat dari sudut pandang berbeda, lokasi rumah ini cukup nyaman, karna menyatu dengan nuansa hutan yang masih alami. Kami pun segera berkumpul di ruang tengah, dan memulai acara pengajian malam itu.
Pengajian di buka oleh temanku yang bertindak sebagai MC. Lantunan ayat-ayat qur'an mulai menggema ketika kami membaca qur'an (tilawah) secara bergiliran. Selesai tilawah, acara pun dilanjutkan dengan pengumpulan infaq, setiap anggota kelompok menyisihkan uang seikhlasnya untuk di kumpulkan dan masuk ke dalam kas kelompok pengajian kami, setelahnya baru masuk ke acara inti penyampaian materi oleh murrobbi (guru). Berhubung jarak antara penulisan kisah ini dengan momen tersebut cukup jauh, materi pun tidak bisa saya jabarkan di sini. :-). Selesai penyampaian materi, kami masuk ke acara berikutnya, tukar kado.
Masing-masing anggota mengeluarkan kado yang telah mereka siapkan sedemikian rupa. Ada yang berbentuk kotak agak besar, ada yang seukuran kotak jam, dan berbagai macam rupa lainnya, dan tentu telah di bungkus dengan kertas kado dengan warna beragam. Supaya adil dan tidak bisa memilah mana kado yang akan di dapatkan, kami pun membuat nomor untuk setiap kado, dan selanjutnya di guncang seperti layaknya arisan. Qodarullah, aku mendapatkan kado berisi buku berjudul Panduan Lengkap Perjalanan Haji dan Umroh. Saya anggap itu sebagai salah satu doa agar Allah berkenan memberangkatkanku mengunjungi tanah suci-Nya, dan ku lihat teman-teman yang lain pun mendapat kado beragam. Sepasang kaos kaki ber-merk, buku panduan mengasuh bayi, dan lain-lain. Malam itu pun di penuhi dengan gelak tawa yang cukup hangat, ketika melihat temanku yang masih lajang mendapatkan buku yang seharusnya dimiliki oleh pria yang sudah beristri. Setelah serangkaian acara selesai di laksanakan, tuan rumah menyajikan berbagai macam makanan seperti pisang goreng, pempek, dan lain-lain untuk kami santap bersama, hingga jam menunjukkan pukul 22.30 WIB. Kami pun pamit, dan pulang ke rumah masing-masing.
Sepulang dari masjid aku melakukan rutinitas seperti biasa hingga jam menunjukkan pukul 19. 45 WIB. Aku segera menyiapkan segala sesuatu yang akan ku bawa ke pengajian malam itu. Mulai dari Qur'an, buku catatan, dan tak ketinggalan kado yang sudah di bungkus sedemikian rupa untuk acara inti. Oh ya aku ingin sedikit menjelaskan, mengapa di adakan acara tukar kado ? apakah ada yang berulang tahun ? Tenyata tidak. Hal ini dilakukan untuk mengaplikasikan anjuran dari Rasulullah shallallahu 'alaihi was salam untuk saling memberi hadiah kepada sesama muslim, sebagaimana yang tersebut dalam hadis riwayat Bukhari. Rasulullah shallallahu 'alaihi was salam bersabda; "Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai."
Berhubung tempat kami mengadakan pengajian adalah di rumah salah seorang teman yang berlokasi di daerah yang cukup jauh dan sedikit terpencil, maka aku mulai menghubungi beberapa teman untuk berbarengan pergi ke lokasi yang di tuju. Suasana alam malam itu amat bersahabat. Cuaca langit begitu cerah, bulan purnama tampak utuh terlukis indah di atas langit, awan-awan hitam hanya sedikit yang menampakkan diri, angin pun berhembus pelan, yang menandakan tidak akan turun hujan. Bintang-bintang hanya sedikit yang nampak, mungkin karena cahaya mereka "termakan" oleh terang sinar bulan malam itu. Aku pun segera menarik laju kuda besi menuju persimpangan Rca, tempat aku dan teman-teman berjanji bertemu, sebelum berangkat ke tempat tujuan.
Sekitar pukul 20.10 WIB, aku telah tiba disana. Dari kejauhan aku melihat, akh (bahasa arab-artinya saudara, -pen) farhur telah tiba lebih dahulu. Akh fahrur adalah salah satu rekan pengajianku, beliau berprofesi sebagai guru di salah satu Sekolah Dasar Islam terkemuka di kotaku. Perawakannya sedang, dengan wajah dihiasi cambang dan janggut yang tumbuh rapi di sekitar dagu dan tepi wajahnya, pria kelahiran tanah Jawa ini telah menunggu lebih kurang lima menit sebelum aku tiba. Akupun menepikan motor di depan salah satu toko baju yang ada di simpang itu. Kami pun mengobrol sejenak, sambil menunggu temanku yang satu lagi akan tiba, akh ican. Beliau juga seorang guru muda dan mengajar di Sekolah dasar yang sama dengan akh fahrur. Sepuluh menit berselang beliau sudah tiba. Kami pun segera berangkat bersama menuju rumah akh tama, tempat kami mengadakan pengajian malam itu.
Rumah yang terletak cukup jauh, melewati jalan berkelok dan naik turun tebing. Mungkin karena berada di lokasi yang secara geografis terdiri dari daerah perbukitan. Sekitar pukul 20.40 WIB kami telah tiba di rumah yang di tuju. Disana tampak beberapa teman telah lebih dahulu tiba, kami pun memarkirkan motor di halaman depan rumahnya. Rumah bedeng yang berada di tepi jurang, dimana di bawah jurang tersebut terdapat aliran sungai kelingi. Jika di lihat dari sudut pandang berbeda, lokasi rumah ini cukup nyaman, karna menyatu dengan nuansa hutan yang masih alami. Kami pun segera berkumpul di ruang tengah, dan memulai acara pengajian malam itu.
Pengajian di buka oleh temanku yang bertindak sebagai MC. Lantunan ayat-ayat qur'an mulai menggema ketika kami membaca qur'an (tilawah) secara bergiliran. Selesai tilawah, acara pun dilanjutkan dengan pengumpulan infaq, setiap anggota kelompok menyisihkan uang seikhlasnya untuk di kumpulkan dan masuk ke dalam kas kelompok pengajian kami, setelahnya baru masuk ke acara inti penyampaian materi oleh murrobbi (guru). Berhubung jarak antara penulisan kisah ini dengan momen tersebut cukup jauh, materi pun tidak bisa saya jabarkan di sini. :-). Selesai penyampaian materi, kami masuk ke acara berikutnya, tukar kado.
Masing-masing anggota mengeluarkan kado yang telah mereka siapkan sedemikian rupa. Ada yang berbentuk kotak agak besar, ada yang seukuran kotak jam, dan berbagai macam rupa lainnya, dan tentu telah di bungkus dengan kertas kado dengan warna beragam. Supaya adil dan tidak bisa memilah mana kado yang akan di dapatkan, kami pun membuat nomor untuk setiap kado, dan selanjutnya di guncang seperti layaknya arisan. Qodarullah, aku mendapatkan kado berisi buku berjudul Panduan Lengkap Perjalanan Haji dan Umroh. Saya anggap itu sebagai salah satu doa agar Allah berkenan memberangkatkanku mengunjungi tanah suci-Nya, dan ku lihat teman-teman yang lain pun mendapat kado beragam. Sepasang kaos kaki ber-merk, buku panduan mengasuh bayi, dan lain-lain. Malam itu pun di penuhi dengan gelak tawa yang cukup hangat, ketika melihat temanku yang masih lajang mendapatkan buku yang seharusnya dimiliki oleh pria yang sudah beristri. Setelah serangkaian acara selesai di laksanakan, tuan rumah menyajikan berbagai macam makanan seperti pisang goreng, pempek, dan lain-lain untuk kami santap bersama, hingga jam menunjukkan pukul 22.30 WIB. Kami pun pamit, dan pulang ke rumah masing-masing.
Senin, 03 Juni 2013
Harapan pada-Mu subur kembali
Terkadang kita jatuh dalam sebuah kesendirian
Di dalam kelam nya zaman tanpa sebuah hamparan
Jauh dari jamaah tanpa tinggalnya kesan
Membunuh amanah sebagai seorang insan
Hampa dan kosong sesak beragam dalam dada
Kering dengan sukma yang lama telah menderita
Arrogan hati tak kunjung hilang mereda
Mendengar bisikan tanpa ada kalimat tanya
Hanya detak jantung tanpa sebuah harapan
Diri Tertatih berjalan dalam sebuah titian kehidupan
Menjerit hati untuk mengharapkan pertolongan
Namun enggan lisan untuk mengungkapkan
Teringatkan janji untuk eratkan langkah
Menggenggam penuh dalam berdakwah
Kalahkan hawa nafsu yang kian membuncah
Satukan diri dalam ikatan ukhuwah
Teringatkan diri dalam senyuman itu
Senda gurau saling berpadu
Tangis dan tawa pemecah ragu
Secercah cahaya hilangkan sendu
Tetingatkan diri ke masa itu
Keluh kesahnya jalan yang berbatu
Terhapuskan haru dengan yang satu
Kembali menuai cinta dan rindu
Padamu yang ingin meraih cita
Teruntuk dirimu yang ingin meraih cinta-Nya
Di dalam kelam nya zaman tanpa sebuah hamparan
Jauh dari jamaah tanpa tinggalnya kesan
Membunuh amanah sebagai seorang insan
Hampa dan kosong sesak beragam dalam dada
Kering dengan sukma yang lama telah menderita
Arrogan hati tak kunjung hilang mereda
Mendengar bisikan tanpa ada kalimat tanya
Hanya detak jantung tanpa sebuah harapan
Diri Tertatih berjalan dalam sebuah titian kehidupan
Menjerit hati untuk mengharapkan pertolongan
Namun enggan lisan untuk mengungkapkan
Teringatkan janji untuk eratkan langkah
Menggenggam penuh dalam berdakwah
Kalahkan hawa nafsu yang kian membuncah
Satukan diri dalam ikatan ukhuwah
Teringatkan diri dalam senyuman itu
Senda gurau saling berpadu
Tangis dan tawa pemecah ragu
Secercah cahaya hilangkan sendu
Tetingatkan diri ke masa itu
Keluh kesahnya jalan yang berbatu
Terhapuskan haru dengan yang satu
Kembali menuai cinta dan rindu
Padamu yang ingin meraih cita
Teruntuk dirimu yang ingin meraih cinta-Nya
Minggu, 12 Mei 2013
Harmoni Alam (Bagian 1)
Siang itu, tanggal16 Jumadil akhir 1434 H, matahari begitu terik menyengat.
Jam tangan menunjukkan waktu pukul 2 siang. Aku pun segera merapikan meja
kerjaku, bersiap untuk segera keluar dari kantor dan memberi beberapa barang
yang telah saya rencanakan sebelumnya. Dari dalam kantor, ku lihat matahari
bersinar dengan terangnya. Hanya sedikit awan yang singgah di langit kotaku,
matahari pun menampakkan diri dengan gagah, tanpa ada penghalang yang berarti.
Setelah meja selesai kurapikan, aku segera menuju motor yang cukup lama "dipajang" di halaman kantor. Ku lihat kendaraan yang melintas sangat ramai, bunyi klakson mobil & motor bercampur baur membuat irama sumbang yang kurang enak di dengar. Perjalanan pun dilanjutkan, dan menuju salah satu toko buku yang sudah ku ketahui sebelumnya banyak menjual buku-buku bernuansa islam.
Sesampainya disana aku segera memarkirkan motor dan disambut seuntai senyum dari penjaga toko yang kebetulan wanita dan usianya mungkin jauh di bawah usiaku. Senyum yang cukup ramah, aku pun balas tersenyum, sambil menundukkan sebentar kepala (ghadul bashor). Melihat dari caranya berpakaian (mengenakan jilbab terikat "kuat" di leher) dan berbicara, tidak mungkin jika ia berusia diatas 25 tahun. Akupun segera menghampirinya dan menanyakan salah satu judul buku yang sedang ku cari. Dengan wajahnya yang polos dan sedikit bingung, ia tampak kesulitan menjawab tanyaku. Sesekali kepalanya tampak melihat ke kanan dan kiri untuk mencari buku yang di maksud, tapi akupun segera "mencegahnya" dan berinsiatif mencari sendiri buku yang dimaksud.
Buku yang telah ku persiapkan jauh-jauh hari untuk di berikan kepada akhifillah (rekan pengajian) dalam acara tukar kado, yang akan di adakan kelompok pengajian malam itu. Saya sengaja memilih buku sebagai kado, karena selain akan bermanfaat untuk penerima, juga bisa menjadi amal jariyah bagi kita yang memberikannya. Terutama jika ia membaca dan mengamalkan apa yang terkandung di dalam buku tersebut. Sepuluh menit sudah waktu berjalan, dan aku masih dalam proses mencari dan memilih dari sekian judul buku yang terbaca olehku, hingga mataku tertuju pada 1 buku. Buku yang juga mungkin menjadi cambuk bagi diri untuk ikut mengaplikasikan isi yang terkandung di dalamnya. Sebenarnya saya sudah memiliki buku yang "substansinya" sama dengan buku tersebut, hanya saja pola motivasi dan judul bukunya saja yang berbeda. Saya harap buku itu akan di dapat oleh akhi yang tepat, dan mungkin juga belum bisa sepenuhnya mengaplikasikan hal apa yang disampaikan oleh buku yang dimaksud.
Jika kalian menebak isi bukunya adalah tentang n*k*h, maka bisa saya jawab, anda salah :-). karena buku itu berjudul "Cinta TahajJud". Sengaja ku pilih buku tersebut karena berharap kolom-kolom evaluasi akan terisi rapi setiap minggunya. Setelah mempertimbangkan isi buku, dan isi dompet (baca: duit). Aku pun memutuskan untuk membelinya. Oh ya, aku teringat dengan tingkah penjaga toko yg kuceritakan di awal tadi, ketika sedang sibuk memilih buku di pojok kumpulan buku2 islam. Sesekali ia bertanya; "milih buku utk pacarnya ya kak ?" yang covernya warna merah muda bagus tuh kak ?" katanya sambil nyengir kuda (walaupun penulis belum pernah liat kuda nyengir).
Kembali ke cerita awal, setelah selesai membeli buku aku segera menarik laju motorku menuju rumah, setelah selesai dengan sekelumit urusanku siang itu. Mungkin untuk "Harmoni alam" edisi 1 aku cukupkan sampai disini dulu, aku tidak mau anda berpanjang-panjang membaca tulisan yang mungkin jauh dari kehandalan sastra para penulis ulung. Di edisi ke 2, aku akan bercerita tentang kegiatanku malam itu dan kisah apa saja yang tercipta di keesokan harinya.. (bersambung)
Setelah meja selesai kurapikan, aku segera menuju motor yang cukup lama "dipajang" di halaman kantor. Ku lihat kendaraan yang melintas sangat ramai, bunyi klakson mobil & motor bercampur baur membuat irama sumbang yang kurang enak di dengar. Perjalanan pun dilanjutkan, dan menuju salah satu toko buku yang sudah ku ketahui sebelumnya banyak menjual buku-buku bernuansa islam.
Sesampainya disana aku segera memarkirkan motor dan disambut seuntai senyum dari penjaga toko yang kebetulan wanita dan usianya mungkin jauh di bawah usiaku. Senyum yang cukup ramah, aku pun balas tersenyum, sambil menundukkan sebentar kepala (ghadul bashor). Melihat dari caranya berpakaian (mengenakan jilbab terikat "kuat" di leher) dan berbicara, tidak mungkin jika ia berusia diatas 25 tahun. Akupun segera menghampirinya dan menanyakan salah satu judul buku yang sedang ku cari. Dengan wajahnya yang polos dan sedikit bingung, ia tampak kesulitan menjawab tanyaku. Sesekali kepalanya tampak melihat ke kanan dan kiri untuk mencari buku yang di maksud, tapi akupun segera "mencegahnya" dan berinsiatif mencari sendiri buku yang dimaksud.
Buku yang telah ku persiapkan jauh-jauh hari untuk di berikan kepada akhifillah (rekan pengajian) dalam acara tukar kado, yang akan di adakan kelompok pengajian malam itu. Saya sengaja memilih buku sebagai kado, karena selain akan bermanfaat untuk penerima, juga bisa menjadi amal jariyah bagi kita yang memberikannya. Terutama jika ia membaca dan mengamalkan apa yang terkandung di dalam buku tersebut. Sepuluh menit sudah waktu berjalan, dan aku masih dalam proses mencari dan memilih dari sekian judul buku yang terbaca olehku, hingga mataku tertuju pada 1 buku. Buku yang juga mungkin menjadi cambuk bagi diri untuk ikut mengaplikasikan isi yang terkandung di dalamnya. Sebenarnya saya sudah memiliki buku yang "substansinya" sama dengan buku tersebut, hanya saja pola motivasi dan judul bukunya saja yang berbeda. Saya harap buku itu akan di dapat oleh akhi yang tepat, dan mungkin juga belum bisa sepenuhnya mengaplikasikan hal apa yang disampaikan oleh buku yang dimaksud.
Jika kalian menebak isi bukunya adalah tentang n*k*h, maka bisa saya jawab, anda salah :-). karena buku itu berjudul "Cinta TahajJud". Sengaja ku pilih buku tersebut karena berharap kolom-kolom evaluasi akan terisi rapi setiap minggunya. Setelah mempertimbangkan isi buku, dan isi dompet (baca: duit). Aku pun memutuskan untuk membelinya. Oh ya, aku teringat dengan tingkah penjaga toko yg kuceritakan di awal tadi, ketika sedang sibuk memilih buku di pojok kumpulan buku2 islam. Sesekali ia bertanya; "milih buku utk pacarnya ya kak ?" yang covernya warna merah muda bagus tuh kak ?" katanya sambil nyengir kuda (walaupun penulis belum pernah liat kuda nyengir).
Kembali ke cerita awal, setelah selesai membeli buku aku segera menarik laju motorku menuju rumah, setelah selesai dengan sekelumit urusanku siang itu. Mungkin untuk "Harmoni alam" edisi 1 aku cukupkan sampai disini dulu, aku tidak mau anda berpanjang-panjang membaca tulisan yang mungkin jauh dari kehandalan sastra para penulis ulung. Di edisi ke 2, aku akan bercerita tentang kegiatanku malam itu dan kisah apa saja yang tercipta di keesokan harinya.. (bersambung)
Minggu, 05 Mei 2013
Perjalanan Malam (Bagian 2)

Malam itu, aku baru bisa memejamkan mata sekitar pukul 23.00. Entah kenapa mataku bisa terpejam di saat sedang takjubnya melihat keindahan bulan malam itu. Mungkin karena banyaknya aktivitas di siang hari dan udara malam yang begitu dingin yang cukup berkontribusi "menidurkan" segenap tubuh dan pikiranku. Di sepertiga akhir malam sekitar pukul 3 lewat 30 menit, di saat kami para peserta mabit sedang asyik dengan tidurnya. Lampu2 masjid mendadak di hidupkan, aku pun terbangun dan melihat ada beberapa orang yang mungkin memang di tugaskan oleh panitia membangunkan rekan-rekannya yang lain untuk segera bangun dan mengambil air wudhu, untuk melaksanakan Qiyyamul lail (Shalat tahajud).
Aku pun segera bangkit dan membereskan kain sarung dan jaket yang ku pakai sebagai perlengkapan tidur. Segera ku berjalan menuju tempat wudhu dan perlahan-lahan membuka kran airnya. Bisa ku rasakan dinginnya udara malam itu yang kebetulan di sertai dengan turunnya hujan yang lumayan deras. Air yang memancar dari kran pun terasa hangat membasahi jari2 dan tanganku. Aku pun segera mengambil siwak membersihkan anggota mulutku, dan menuntaskan wudhuku. Malam itu, aku baru bisa memejamkan mata sekitar pukul 23.00. Entah kenapa mataku bisa terpejam di saat sedang takjubnya melihat keindahan bulan malam itu. Mungkin karena banyaknya aktivitas di siang hari dan udara malam yang begitu dingin yang cukup berkontribusi "menidurkan" segenap tubuh dan pikiranku. Di sepertiga akhir malam sekitar pukul 03.30 WIB, di saat kami para peserta mabit sedang asyik dengan tidurnya. Lampu-lampu masjid mendadak di hidupkan, aku pun terbangun dan melihat ada beberapa orang yang mungkin memang di tugaskan oleh panitia membangunkan rekan-rekannya yang lain untuk segera bangun dan mengambil air wudhu, untuk melaksanakan
Oh ya, ada 1 hal menarik saat aku berjalan dari tempat wudhu menuju
kembali ke shaf masjid, di sudut-sudut masjid aku melihat para peserta mabit
yang nota bene kader2 dakwah sedang khusyuk melaksanakan shalat sunnah
tahajud, dan sebagian lagi membaca Qur'an. Ada yang berdiri shalat
dengan mushaf di tangan kanannya, membaca surat-surat panjang seperti
halnya yang Rasulullah shallallahu alaihi wa salam contohkan. Aku pun
teringat kepada 1 hadis, yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Abdullah
bin Mas'ud, bahwasanya ia bercerita tentang lamanya Nabi saw berdiri
dalam shalat tahajudnya, sehingga cukup membuat "gusar" Ibnu Mas'ud yang
menjadi makmumnya kala itu. Berbagai macam irama alunan suara2 indah
yang keluar dari mulut-mulut suci pun terdengar sayup-sayup memenuhi segenap
ruangan masjid. Namun tidak sampai mengganggu kekhusyukan peserta yang
lain dalam beribadah.
Sungguh takjub aku melihat suasana malam itu, begitu khusyuknya para peserta dalam melaksanakan ibadahnya demi mengharap rahmat dan ampunan dari Tuhannya. Hal ini sebenarnya tidaklah mengherankan bagi sebagian orang yang sudah terbiasa dan paham betul akan besarnya keutamaan melaksanakan shalat tahajud. Tapi untuk orang seukuran saya dan mungkin pembaca yang masih awam, ada baiknya kita melihat sejenak anjuran Allah swt kepada manusia untuk melaksanakan shalat malam. Seperti yang di firman kan Allah swt dalam QS Al Isra' ayat 79; "Dan pada sebahagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. Dan juga yang terucap dari lisan Rasulullah saw bahwasanya beliau bersabda : "Keutamaan shalat malam atas shalat siang, seperti keutamaan bersedekah secara sembunyi atas bersedekah secara terang-terangan."
Kembali ke cerita awal, aku pun bersegera menuju shaf depan, mencari ruang kosong untuk ikut bermunajat di malam itu. Mataku melirik sebentar ke arah jam besar yang terpajang indah di mihrab imam di pojok masjid. Waktu menunjukkan pukul 4.10 WIB, masih ada waktu sekitar 45 menit sebelum adzan subuh berkumandang. Ku mulai tahajud dengan 2 raka'at ringan, yang kemudian dilanjutkan dengan raka'at-raka'at panjang. Menyempatkan diri untuk berdoa, mengharap dosa di ampuni oleh Yang Maha Pencipta. Sepertiga malam memang termasuk kepada waktu2 mustajab untuk berdoa, karena pada waktu itulah menurut hadis qudsi bahwa Allah azza wa jalla "turun" ke langit dunia dan berfirman yang intinya siapa yang berdoa akan Ia kabulkan, begitu juga bagi hamba yang meminta dan memohon ampunan.
Seiring dengan doa2 dan tilawah qur'an di lantunkan, beduk subuh pun mulai di tabuh oleh salah seorang pengurus masjid. Azan subuh mulai berkumandang, bersahut-sahutan antara satu masjid dengan masjid yang lain, memecah keheningan dan membangunkan sebagian insan yang sedang larut dalam bayang2 di alam mimpinya. Satu demi satu insan terpanggil yang ada di sekitar masjid mulai berdatangan, menyambut seruan suci ilahi. Memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang muslim, terutama mereka yang bertetangga dengan masjid.
Kami para peserta mabit pun larut dalam kekhusyukan ketika imam mengumandangkan takbir dan melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'anul Karim.. Ba'da subuh acara pun di lanjutkan, ke markas dakwah tempat aku dan teman2 berkumpul malam itu.di bagian ke 3 dari kisah ini, aku akan menceritakan hal-hal yang cukup menakjubkan yang lebih menitikberatkan pada pengenalan sosok2 insan, yang aku dan temanku az temui. (bersambung)
Sungguh takjub aku melihat suasana malam itu, begitu khusyuknya para peserta dalam melaksanakan ibadahnya demi mengharap rahmat dan ampunan dari Tuhannya. Hal ini sebenarnya tidaklah mengherankan bagi sebagian orang yang sudah terbiasa dan paham betul akan besarnya keutamaan melaksanakan shalat tahajud. Tapi untuk orang seukuran saya dan mungkin pembaca yang masih awam, ada baiknya kita melihat sejenak anjuran Allah swt kepada manusia untuk melaksanakan shalat malam. Seperti yang di firman kan Allah swt dalam QS Al Isra' ayat 79; "Dan pada sebahagian malam hari, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. Dan juga yang terucap dari lisan Rasulullah saw bahwasanya beliau bersabda : "Keutamaan shalat malam atas shalat siang, seperti keutamaan bersedekah secara sembunyi atas bersedekah secara terang-terangan."
Kembali ke cerita awal, aku pun bersegera menuju shaf depan, mencari ruang kosong untuk ikut bermunajat di malam itu. Mataku melirik sebentar ke arah jam besar yang terpajang indah di mihrab imam di pojok masjid. Waktu menunjukkan pukul 4.10 WIB, masih ada waktu sekitar 45 menit sebelum adzan subuh berkumandang. Ku mulai tahajud dengan 2 raka'at ringan, yang kemudian dilanjutkan dengan raka'at-raka'at panjang. Menyempatkan diri untuk berdoa, mengharap dosa di ampuni oleh Yang Maha Pencipta. Sepertiga malam memang termasuk kepada waktu2 mustajab untuk berdoa, karena pada waktu itulah menurut hadis qudsi bahwa Allah azza wa jalla "turun" ke langit dunia dan berfirman yang intinya siapa yang berdoa akan Ia kabulkan, begitu juga bagi hamba yang meminta dan memohon ampunan.
Seiring dengan doa2 dan tilawah qur'an di lantunkan, beduk subuh pun mulai di tabuh oleh salah seorang pengurus masjid. Azan subuh mulai berkumandang, bersahut-sahutan antara satu masjid dengan masjid yang lain, memecah keheningan dan membangunkan sebagian insan yang sedang larut dalam bayang2 di alam mimpinya. Satu demi satu insan terpanggil yang ada di sekitar masjid mulai berdatangan, menyambut seruan suci ilahi. Memenuhi kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang muslim, terutama mereka yang bertetangga dengan masjid.
Kami para peserta mabit pun larut dalam kekhusyukan ketika imam mengumandangkan takbir dan melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'anul Karim.. Ba'da subuh acara pun di lanjutkan, ke markas dakwah tempat aku dan teman2 berkumpul malam itu.di bagian ke 3 dari kisah ini, aku akan menceritakan hal-hal yang cukup menakjubkan yang lebih menitikberatkan pada pengenalan sosok2 insan, yang aku dan temanku az temui. (bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)