Senin, 20 Juli 2009

Kita Harus Berjuang !

Perjuangan tidak mengenal batas. Apa saja yang kita berikan untuk kebaikan adalah berjuang. Perjuangan adalah nafas dan naluri kehidupan setiap hari. Kita memang harus berjuang, karena di sanalah habibat kemanusiaan dan ke¬musliman kita....

----------
Kita Harus Berjuang

Kota suci Makkah, awal masa kenabian. Ruas-ruas waktu serasa berjalan sangat lamban, seakan turut mengeja duka yang dirasa Rasulullah atas kebengisan orang-orang Quraisy. Seperti hari itu, Rasulullah sedang shalat di sekitar Ka'bah. Sementara Abu Jahal dan kawan-kawannya duduk-duduk memandangi Rasulullah. Mereka saling berseloroh, "Siapa yang berani mengambil isi perut onta dari si fulan lalu menimbunkannya ke atas pundak Muhammad ketika is sujud?" Maka pergilah salah seorang mereka mengambil isi perut onta itu. Ketika Rasulullah sujud, secepatnya is timbunkan kotoran itu ke punggungnya.

Rasulullah terus sujud. Sementara orang-orang kafir yang najis itu terpingkal-pingkal dan saling memandangi satu sama lain. Rasulullah tidak mengangkat sujudnya. Hingga Fatimah, putri tercintanya datang membersihkan kotoran itu. Rasulullah segera bangkit, lalu menengadahkan do'a. "Ya Allah balaslah orang-orang Quraisy itu."
Di kali lain, Rasulullah berjalan di lorong Mak¬kah. Tiba-tiba orang-orang Quraisy mengguyurkan tanah ke atas kepalanya. Rasulullah bergegas pulang. Setibanya di rumah, putri tercintanya mena¬ngis melihat apa yang dialami ayahnya. la lantas membersihkan tanah itu. Rasulullah menghibur putrinya, 'Wahai anakku, janganlah engkau mena¬ngis. Sesungguhnya Allah melindungi ayahmu."

Kisah di atas bukan sekadar penggalan sirah Rasulullah yang mulia. Lebih dari itu, is juga sebuah sikap. Bahkan sebuah deklarasi yang menjelaskan kepada kita, bahwa perjuangan –dalam konteks apapun– selalu berat.
Kali pertama agama ini diturunkan, ia diturunkan dalam garis dan rel perjuangan. Sebagaimana para Rasul sebelumnya harus berjuang keras menyampaikan wahyu kepada kaum mereka. Sebagian dari mereka terbunuh, sebagian besar lainnya dilecehkan, dianiaya, disiksa dan diusir. Agama ini memang tidak tegak dalam sekejap. Tidak juga teguh dengan biaya murah.

Berjuta-juta jiwa gugur dan tertanam di bumi. Berjuta-juta nyawa pulang ke hadapan Allah. Berjuta-juta tubuh bergelimang darah dan air mata. Berjuta jiwa tercekam, terusir, terasing, terpinggirkan, bahkan tenlindas arogansi orang-orang yang dzalim. Semuanya demi tegaknya agama Islam. Dengan jelas Allah berfirman, "Apakah kamu me¬ngira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat" (QS. AI-Baqarah: 214).

Ketegaran Rasulullah juga memberi penega¬san lain. Bahwa perjuangan tidak saja soal berat dan bebannya. Tapi juga sebuah ekspektasikeba¬hagiaan jiwa. Artinya, perjuangan yang benar akan memberi samudera bahagia di tengah mata air derita. Memberi makna keberartian di tengah peminggiran dan pengusiran. Memberi rasa pengharapan dan kepasrahan mendalam kepada Allah di tengah penindasan dan kesewenang¬wenangan. Sekali lagi, perjuangan adalah sungai bahagia yang menganak panjang. Hulunya adalah janji dan jaminan Allah. Hilirnya adalah kemenang¬an dan peneguhan.

Itulah rahasia terbesar para pejuang. Sekaligus argumen terkuat mengapa perjuangan selalu melahirkan orang-orang perkasa, tegar, kokoh, meski ada juga orang-orang munafik yang mendompleng.
Maka, dengan sangat terang kita bisa merasakan betapa di tengah segala kegilaan orang-orang Quraisy itu, Rasulullah tetap tegar. Karenanya, keti¬ka sekelumit kegamangan mampir dalam diri saha¬bat, Rasulullah dengan penuh kasih menghibur mereka. Rasulullah lantas mengisahkan bagai¬mana para pendahulu mereka juga menghadapi hal yang sama, disiksa, dianiaya, dibunuh, atau dikubur hidup-hidup. 'Tetapi siksaan-siksaan itu tidak menggoyahkan tekad mereka untuk mem¬pertahankan agama," jelas Rasulullah. Kemudian ia menambahkan, "Demi Allah, Allah pasti akan mengakhiri semua persoalan ini, sehingga orang berani berjalan dari Shan'a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada siapapun selain Allah, dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Tetapi kalian tampak buru-buru."

Di sisi lain, Rasulullah juga harus berjuang di jalur kehidupannya yang wajar sebagai manusia di dunia. Menambal bajunya sendiri, mencari naf¬kah untuk keluarganya, dan membantu istrinya di rumah. Rasulullah tidak saja tegar di medan da'wah, tapi juga tegar dalam mencintai umatnya, sahabat¬sahabatnya, anak-anak dan juga istrinya. Maka, ketika istri-istrinya pada suatu hari meminta kenai¬kan nafkah, Rasulullah pun sedih dan haws berju¬ang menyelesaikan urusan duniawi tersebut. Berju¬ang meluluhkan hati para istrinya. Hingga akhimya mereka ridha dengan apa yang telah diberikan Rasulullah.

Itu menunjukkan sisi lain dari sebuah perjuangan. Bahwa hidup di dunia ini juga dilahirkan di atas rel perjuangan: perjuangan untuk hidup. Perjuangan untuk memenuhi hak¬hak orang lain. Perjuangan untuk hidup di atas jalan yang lurus sesuai aturan Allah. Perjuangan untuk melawan godaan hawa nafsu dan rayuan syetan. Perjuangan untuk mengejar kehendak dan cita-cita. Termasuk, perjuangan untuk me¬nyambung hidup itu sendiri, dengan nafas-na¬fas dunia dan pengharapan kepada hari akhirat.

Setiap kita punya cara sendiri untuk hidup. Itu tak soal. Di jalan-jalan raya yang keras, di kantor-kantor megah yang sejuk, di kampus¬-kampus yang gegap gempita, di tengah samudera yang bergelombang, di sawah-sawah dan ladang-ladang yang tenang, di rumah-rumah yang pengap maupun lapang, di batik deru mesin-mesin industri yang bising, di dalam lorong panjang pertambangan yang men¬cekam, setiap hari, setiap waktu, setiap orang menyambung nafas-nafas kehidupannya. Ada berjuta cara untuk hidup. Tetapi, perjuangan hanya kosakata untuk cara hidup yang lurus. Perjuangan hanya bahasa untuk pengorbanan yang benar. Maka, menyambung hidup dengan cara kotor, licik, dan kerdil sama sekali bukan perjuangan. Sampai pun bila hidup secara kotor lebih melelahkan dan lebih memakan pengor¬banan.

Hidup adalah perjuangan, dalam konteks dunia maupun akhirat, dalam kepentingan agama maupun kepentingan kemanusiaan. Membangun sarana pendidikan adalah ber-juang, menyantuni anak-anak yatim, mencari nafkah, menyayangi dan mendidik anak-anak, mendirikan tempat-tampat pengobatan gratis, menyuarakan kebenaran dihadapan penguasa, meninggikan syiar agama adalah berjuang.
Perjuangan tidak mengenal batas. Apa saja yang kita berikan untuk kebaikan adalah berjuang. Perjuangan adalah nafas dan naluri kehidupan setiap hari. Kita memang harus berjuang, karena di sanalah habibat kemanusiaan dan ke¬musliman kita. Karena di sanalah tempat kita menabung, untuk dipanen anak cucu kita sebagai amal jariyah, atau kita panen sendiri di akhirat kelak sebagai amal kebaikan.
sumber : www.oaseislam.com

Kisah Pemudi Yahudi Yang Memeluk Islam

Pada suatu malam tepatnya ketika menjelang pagi, terbersit keinginan untuk bunuh diri untuk meng-akhiri kegalauan ini. Aku berada di dalam ruangan yang tak bermakna. Hujan yang deras, gulungan awan yang tebal seakan memenjarakanku. Apa yang ada di sekitarku seolah ingin membunuhku....
----------

Wahai saudara-saudaraku! Agama ini merupakan sebuah agama yang agung. Jika ada seseorang yang mendakwahkannya dengan lurus dan benar maka jiwa yang suci pasti akan menerimanya, walau apapun agama yang sedang ia anut atau dari bangsa manapun ia berasal. Dalam kisah ini, penulis kisah yang telah kami pilihkan untuk kalian dari jaringan internet berkata, teman wanita pemudi itu berkata, "Aku melihat wajahnya berseri-seri di dalam sebuah masjid yang terletak di pusat kota kecil di Amerika, sedang membaca al-Qur'an yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Aku ucapkan salam kepadanya dan ia membalasnya dengan iringan senyum. Kami pun membuka obrolan dan dalam waktu singkat kami menjadi dua orang sahabat yang sangat akrab.

Pada suatu malam, kami bertemu di tepi sebuah danau nan indah. Di sanalah ia menceritakan kisah keislamannya. Mari kita simak kisah tersebut.

Ia berkata, "Aku hidup dalam rumah tangga Amerika penganut agama Yahudi yang berantakan. Setelah ayah dan ibuku bercerai, ayahku menikah dengan wanita lain. Ibu tiriku ini sering menyiksaku. Pada usia 17 tahun aku lari dari rumah dan pergi dari satu negara bagian ke negara bagian lain. Di sana aku bertemu dengan seorang pemudi Arab mereka (sebagaimana yang ia ceritakan) adalah teman tempat pelarianku yang sangat baik. Mereka semua tersenyum padaku kemudian kami menyantap hidangan makan malam. Akupun ikut melakukan seperti apa yang mereka lakukan. Setelah menyantap hidangan, aku lang-sung kabur, karena aku tidak suka persahabatan seperti ini. Ditambah lagi aku tidak menyukai bangsa Arab.

Hidupku yang sengsara tak pernah merasa tenang, selalu dirundung kegelisahan. Aku mulai mendalami agama dengan tujuan ingin mendapatkan ketenangan rohani dan kekuatan moril dalam menjalani kehidupan. Namun semua itu tidak aku dapati dalam agama Yahudi. Ternyata agama ini hanya menghormati kaum wanita namun tidak menghormati hak asasi manusia dan sangat egois. Setiap mengajukan suatu pertanyaan aku tidak mendapatkan jawaban. Lalu aku berpindah ke agama Nasrani. Ternyata dalam agama ini banyak pertentangan yang sulit diterima akal dan hanya menuntut kita agar menerimanya. Berkali-kali aku tanyakan bagaimana mungkin Tuhan membunuh anakNya? Bagaimana cara ia melahirkan? Bagaimana mungkin kita mempunyai tiga Tuhan sementara satu pun tidak ada yang dapat kita lihat? Lalu aku bertekad untuk meninggalkan semua itu. Namun aku yakin bahwa alam ini pasti ada yang menciptakan. Setiap malam aku selalu berpikir dan berpikir hingga pagi menjelang.

Pada suatu malam tepatnya ketika menjelang pagi, terbersit keinginan untuk bunuh diri untuk mengakhiri kegalauan ini. Aku berada di dalam ruangan yang tak bermakna. Hujan yang deras, gulungan awan yang tebal seakan memenjarakanku. Apa yang ada di sekitarku seolah ingin membunuhku. Pepohonan memandangku dengan pandangan sinis, siraman air hujan mengalunkan irama kebencian. Kupandang dari balik jendela, di dalam sebuah rumah terpencil. Aku merasa diriku rendah di hadapan Allah.
Ya Tuhanku! Aku tahu Kau ada di sana. Aku tahu Kau menyayangiku. Aku seorang terpenjara, hambaMu yang lemah, Tunjukilah jalan yang harus kutempuh, Ya Tuhanku! berilah aku petunjuk! Atau cabut saja nyawaku. Aku menangis tersedu-sedu hingga tertidur.

Pada pagi hari aku bangun dengan ketenangan hati yang belum pernah aku rasakan. Seperti biasa aku keluar mencari rizki dengan harapan semoga ada yang mau memberiku sarapan, atau mengambil upah dengan mencuci piringnya. Di sanalah aku bertemu dengan seorang pemuda Arab kemudian aku berbincang-bincang dengannya cukup lama. Setelah sarapan, ia memintaku untuk datang ke rumahnya dan tinggal bersamanya, lalu aku pun ikut dengannya. Ketika kami sedang menyantap makan pagi, minum dan bercanda, tiba-tiba muncul seorang pemuda berjenggot yang ber-nama Sa'ad. Nama tersebut aku ketahui dari temanku yang sambil terkejut menyebut nama pemuda itu. Pemuda itu menarik tangan temanku dan menyuruhnya keluar. Tinggallah aku sendirian duduk gemetar. Apakah aku sedang berhadapan dengan seorang teroris? Tetapi ia tidak melakukan sesuatu yang menakutkan, bahkan ia memintaku dengan lemah lembut agar aku kembali ke rumahku. Lalu aku katakan kepadanya bahwa aku tidak punya rumah. Ia memandangku dengan perasaan terharu.

Kesan ini dapat aku tangkap dari mimik wajahnya. Kemudian ia berkata, 'Baiklah, kalau begitu tinggallah di sini malam ini, karena di luar cuaca teramat dingin dan pergilah besok. Kemudian ambil uang ini semoga bermanfaat sebelum kamu mendapat pekerjaan.' Ketika ia hendak pergi aku menghadangnya lalu aku ucapkan terima kasih. Aku katakan, 'Tetaplah di sini dan aku yang akan keluar, namun aku harap engkau menceritakan apa yang mendorongmu melakukan ini terhadap aku dan temanmu. Ia lalu duduk dan mulai bercerita kepadaku sementara matanya memandang ke bawah. Katanya, 'Sebenarnya yang mendorongku berbuat seperti itu karena agama Islam melarang melakukan segala yang haram, seperti berduaan dengan seorang wanita yang bukan mahram dan meminum khamar. Islam juga mendorong untuk berbuat baik terhadap sesama manusia dan menganjurkan untuk berakhlak mulia.' Aku merasa heran, apakah mereka ini yang disebut teroris? Tadinya aku mengira mereka selalu membawa pistol dan membunuh siapa saja yang mereka jumpai. Demikian yang aku dapatkan dari media massa Amerika.

Aku katakan, 'Aku ingin mengenal Islam lebih dalam, dapatkah engkau memberitahukannya kepadaku?' Ia berkata, "Aku akan bawa kamu ke sebuah keluarga muslim yang taat dan kamu dapat tinggal di sana. Aku tahu mereka akan mengajarkan sebaik-baik pengajaran kepadamu." Kemudian pemuda itu membawaku pergi. Pada jam 10 aku sudah berada di rumah tersebut dan mendapat sambutan hangat. Lalu aku mengajukan beberapa pertanyaan sedang Dr. Sulaiman sebagai kepala rumah tangga menjawab pertanyaan tersebut sampai aku merasa puas. Aku merasa puas karena aku telah mendapatkan jawaban pertanyaan yang selama ini aku cari. Yaitu agama yang terang dan jelas yang sesuai dengan fitrah manusia. Aku tidak mengalami kesulitan dalam memahami setiap apa yang aku dengar. Semuanya merupakan kebenaran. Ketika mengumumkan keislamanku, aku merasa adanya sebuah kebangkitan yang tiada tara.

Pada hari kebangkitanku itu atas kesadaranku sendiri aku langsung memakai cadar. Tepat jam 1 siang Sayyidah (Nyonya Sulaiman) membawaku ke sebuah kamar yang terbaik di rumah itu. Ia berkata, 'Ini kamarmu, tinggallah di sini sesuka hatimu.' Ia melihatku tengah memandang ke luar jendela. Aku tersenyum sementara air mata berlinang membasahi pipiku. Ia bertanya mengapa aku menangis. Aku ja-wab, 'Kemarin pada waktu yang sama aku berdiri di balik jendela merendahkan diri kepada Allah.'

Aku berdo'a, 'Ya Tuhanku! Tunjukilah aku jalan kebenaran, atau cabut saja nyawaku.' Sungguh Allah telah menunjukiku dan memuliakanku. Sekarang aku adalah seorang muslimah bercadar dan terhormat. Inilah jalan yang aku cari, inilah jalan yang aku cari. Sayyidah memelukku dan ikut menangis bersamaku'."
sumber : www.oaseislam.com

Panjang Angan-Angan

Ada empat perkara yang mendatangkan kerugian, yaitu: mata yang tak pernah menangis, hati yang keras, panjang angan-angan, dan rakus terhadap dunia.
Panjang angan-angan akan melahirkan sifat malas berbuat taat dan menunda-nunda taubat, berambisi mengejar dunia, lupa terhadap akhirat, dan hati yang keras. Karena hati yang lembut dan bersih terlahir dengan banyak mengingat kematian, kubur, pahala, siksa, dan kedahsyatan hari kiamat. “…Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras…” (QS. al-Hadid : 16)

Atau sebuah hadits riwayat Bukhari dalam ar-Riqaaq, “Hati orang tua menjadi muda karena dua hal, cinta dunia dan panjang angan-angan.”
Hasan al-Bashri rahimahullah pun pernah berkata, “Yaitu syaithan memanjangkan angan-angan mereka dan menjanjikan bagi mereka umur yang panjang.”

Terapinya? Ingat mati, kubur, pahala, siksa, dan kedahsyatan hari kiamat. Sesungguhnya perkara-perkara itu akan membangunkan kita dari kelalaian. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jika engkau berada di sore hari janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari janganlah tunggu sampai datang sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang masa sakit. Pergunakanlah kesempatan hidupmu sebelum datang kematian.”

Terapi kedua adalah segera beramal shalih. “Segeralah beramal sebelum datang tujuh perkara, tidaklah yang kalian tunggu itu selain kefakiran yang melalaikan, kekayaan yang menyombongkan, penyakit yang merusak, usia tua yang melemahkan, kematian yang melenyapkan, kedatangan Dajjal sejahat-jahat yang dinantikan atau hari kiamat, dan hari kiamat itu sangat pedih dan sangat pahit.” (HR. at-Tirmidzi dalam az-Zuhd)

Orang yang membatasi angan-angannya akan sedikit kesedihan dan akan bersinar hatinya.

Hai orang-orang yang sibuk dengan dunianya
Ditipu oleh angan-angan kosong
Sementara kematian datang sekonyong-konyongnya
Kubur akan menjadi kotak amal
Sesungguhnya dunia ibarat bayangan yang akan hilang
Atau seperti tamu yang bermalam dan akan segera pergi

penulis : Andita SB
dikutip dari : www.sobat-muda.com

Saat Shalat Sangat Cepat bag.1

Siapapun takkan ada yang menyangkal bahwasanya bagi setiap muslim memiliki kewajiban kepada penciptanya. Kewajiban tersebut berupa penyembahan atas Rabbnya sesuai dengan apa-apa yang Rabbnya tersebut syariatkan. Salah satu diantara keawajiban bagi seorang hamba ialah shalat, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam :

Dari Umar bin Al-Khathab radhiallahu 'anh, dia berkata: ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata," Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam " Rasulullah menjawab,"Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya." Orang itu berkata,"Engkau benar," kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya..........(HR.Muslim)

Shalat merupakan syariat Islam yang merupakan perintah dari Allah, melalui perantara malaikat Jibril tersebut maka shalat dimasukkan kedalam rukun Islam yang kedua, sebagaimana pernah diketahui dalam pelajaran agama disetiap jenjang pendidikan formal di negeri tercinta Indonesia ini. Bahkan sejak jenjang pendidikan tingkat awal dalam kehidupan manusia di negeri ini. Mereka para anak-anak TK telah diwajibkan oleh gurunya untuk menghafalkan rukun Islam. Telah banyak penjelasan dari masa seseorang kecil hingga mencapai usia tuanya tentang shalat.

Shalat bagi setiap mukmin adalah kondisi yang tenang dan sempurna kesemua rukunnya, setiap manusia memiliki tuntutan dalam beribadah dengan dua sendi. Sendi pertama ialah hendaklah ibadah tersebut dilaksanakan diatas dasar keikhlasan; yakni menafikan (meniadakan) perkara-perkara lain saat beribadah tersebut melainkan hanya karena Allah dan hanya berharap Allah yang membalas amalan ibadahnya tersebut. Sedangkan yang kedua ialah mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dalam melaksanakannya dan tata caranya. Ibadah jika terlepas dari dua konsekuensi tersebut maka tidak diterima.

Jika dalam buang air saja Rasululah shalallahu ‘alayhi wa sallam telah mengajarkan tata caranya secara sempurna dan mudah, maka dengan hal besar termasuk shalat pun tentulah Rasulullah telah mengajarkannya dengan penuh kesempurnaan. Beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam telah mengajarkan urutan tata tertibnya, rukunnya, syaratnya, dan hal-hal yang melengkapi dalam shalat itu sendiri. Bahkan beliau pun berpesan dalam perkatannya dari Malik bin Huwairits radhiyallohu anhu, “shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)

Bagi setiap hamba Allah hendaknya melaksanakan shalatnya dengan sepenuh hati, sesuai sunnah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam. Dipenuhi dengan ketenangan hati dan kekhusyuan sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya,” (QS. Al Mukminun : 1-2)

Terkadang seorang muslim hanya mendapatkan pahala shalatnya tidak sepenuhnya dalam keadaan sempurna pahalanya, hal ini disebabkan mungkin shalatnya tersebut tidak dilaksanakan dengan kekhusyu’an yang berkurang, sunnah-sunnah yang tidak dilaksanakan secara sempurna, dan berbagai macam hambatan lainnya. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dari Ammar bin Yassir radhiyallohu anhu, “Sesungguhnya seseorang selesai melakukan shalat sedangkan pahala shalatnya itu tidak didapatkannya kecuali sepersepuluhnya, atau sepersembilannya, seperdelapannya, atau sepertujuhnya, atau seperenamnya, atau seperlimanya, atau seperempatnya, atau sepertiganya, atau setengahnya.” (Hadist Hasan, dalam Shahih Targhib wa Tarhib oleh Asy Syaikh Al Albani. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasaa’i dan Ibnu Hibban.).

Written by Rizki Aji
www.sobat-muda.com

Iblis Datang Dari Muka, Belakang, Kanan, dan Kiri Kita

Di dalam Al Qur'an, akan kita dapati sebuah rekaman dialog antara Allah dengan iblis yang dihukum oleh Allah. Dalam dialog tersebut, iblis bersumpah, bersumpah untuk selalu menyesatkan manusia. Hal tersebut terekam dalam surat Al A'raf ayat 16-17 berikut ini:

"Iblis menjawab: 'Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at).'" (QS. Al A'raf : 16-17)
Teman, dari ayat Al Quran di atas dijelaskan bahwa Iblis akan selalu menghalang-halangi kita dari jalan yang lurus. Caranya, dia akan mendatangi kita dari muka, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri kita. Lalu apa maksud dari keempat penjuru itu?

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT dalam surat Al-A'raf ayat 17 di atas adalah:

"Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka": Iblis akan membuat manusia ragu akan permasalahan akhirat (Min baini Aidihim),

"dan dari belakang mereka": membuat mereka cinta kepada dunia (Wa Min Kholfihim),
"dari kanan": urusan-urusan agama akan dibuat tidak jelas (Wa 'An Aimaanihim)
"dan dari kiri mereka": dan manusia akan dibuat tertarik dan senang terhadap kemaksiatan (Wa 'An Syama'ilihim).

Lalu timbul pertanyaan di benak kita, mengapa iblis tidak mendatangi kita dari atas dan dari bawah kita? Hal tersebut dijelaskan dalam sebuah tafsir Al Qur'an berikut ini:

Al-Fakhrur-Razy dalam tafsirnya berkata: "Diriwayatkan bahwa ketika Iblis mengatakan ucapannya tersebut, maka hati para malaikat menjadi kasihan terhadap manusia mereka berkata: "Wahai Tuhan kami, bagaimana mungkin manusia bisa melepaskan diri dari gangguan syaitan?" Maka Allah berfirman kepada mereka bahwa bagi manusia masih tersisa dua jalan: atas dan bawah, jika manusia mengangkat kedua tangannnya dalam do'a dengan penuh kerendah-hatian atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyu'an, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka" (At-Tafsir Al-Kabir V/215)

Dalam tafsir yang lain juga dikatakan bahwa Iblis tidak mendatangi kita dari atas, karena rahmat turun kepada manusia dari atas (Tafsir Ibnu katsir III/394-395)
Ikhwah fillah, iman adalah senjata kita. Berdoalah, mari sama-sama kita berlindung kepada Allah atas segala godaan syaithan yang terkutuk. (hdn)

sumber : hudzaifah.org